High Risk High Return Ala Era Disrupsi

Header

header adsjavascript:void(0)

High Risk High Return Ala Era Disrupsi

Semboyan kuat para pebisnis atau pengusaha yang selalu bisa menjadi motivasi diri salah satunya adalah, "High Risk High Return". Setiap langkah tentu penuh dengan risiko, tapi dibalik risio yang besar, ada potensi return  yang besar pula. Sederhananya, kamu judi nih, modal kamu 100.000 IDR, kalau kamu pasang atau bertaruh (bet) dengan jumlah 10.000 IDR saja, ya risikonya masih kecillah, kalo kalah ruginya cuma 10.000 IDR, masih ada sisa 90.000 IDR lainnya yang masih bisa dipakai bertaruh, kalau menang ya untungnya 10.000 IDR, jadi untung 10% lah. Tapi kalau kamu pasangnya 100.000 IDR, maka risikonya kamu bakal kehabisan modal betul? Tapi ada pula potensi dimana kamu mendapatkan return sebesar 200%. Karena kalau kamu menang kamu bakal dapat 200.000 IDR ditangan kamu. Note: Sebenarnya return nya cuma 100%, dilebih-lebih kan biar kamu amaze.


Permainan bisnis di era disrupsi yang dimana-mana serba digitalisasi seperti sekarang ini, tentunya juga memegang teguh semboyan dasar dalam berbisnis ini. Apa kamu pikir, e-commerce dengan fitur-fitur yang serba memudahkan pengguna, promo-promo yang senantiasa menggiurkan mata, dan hadiah-hadiah yang selalu bisa menarik perhatian tidak menimbulkan resiko sama sekali pada mereka? Juga aplikasi jasa pengantaran dan transportasi online, dan tentunya juga dengan dompet-dompet digilat. Tentunya dibalik segala macam promo dan hal-hal luar biasa lainnya yang ditawarkan para unicorn ini, akan selalu ada risiko besar yang mereka hadapi atau bahkan sedang mereka hadapi. Mereka memang punya banyak cucuran dana untuk mengembangkan bisnisnya, bahkan statusnya sudah mencapai pada status unicorn yaitu dengan nilai valuasi mencapai 1 milliar USD. Berarti perusahaan tersebut termasuk perusahaan yang kaya-raya dong.

Tapi yang kurang menjadi perhatian banyak orang adalah, kenapa aplikasi dan segala kemudahan dan keindahan dan kenikmatan dari macam-macam aplikasi ini dapat dimanfaatkan dan didapatkan dengan gratis? Hanya bermodalkan smartphone, koneksi internet, dan akun kita sudah bisa memanfaatkan segala hal yang ditawarkan dari semua aplikasi tersebut. Mulai dari Traveloka, Bukalapak, Gojek, Shopee, Grab, Tokopedia, Dana, dan juga OVO. Aplikasi ini dapat dengan mudah kita unduh melalui Appstore atau Google Playstore dan semua fiturnya pun aktif. Sedangkan untuk mengunduh game saja, ada kok yang berbayar untuk sekali unduh, bahkan buku di Google Play, buku untuk dibaca online saja ada yang berbayar kok. Ini? berbagai macam fasilitas yang memudahkan kita dalam kehidupan sehari-hari diberikan dengan mudahnya dan gratis? Gila. Ide untuk membuatnya saja pasti sebuah hal yang patut diberi penghargaan dan nilai, paling tidak secara materi (uang), apalagi aplikasinya.

Salah satu alasannya, mungkin adalah risiko bisnis. Kamu bisa bayangkan bagaimana dan apa yang terjadi bila salah satu marketplace, salah satu aplikasi transportasi online, ataukah dompet digital menjadikan dirinya sebagai aplikasi yang berbayar untuk diunduh. Akan ada sih yang mengunduhnya, tapi tidak sebanyak dengan memberikannya secara cuma-cuma atau gratis. Risikonya? Ya kamu gak dapat profit sama sekali dari produk yang telah kamu ciptakan dengan ide kamu sendiri, kamu bangun dan kembangkan dengan tangan-tangan yang kamu punya.

Sederhananya sih begini, kamu menemukan ide untuk menciptakan produk yang namanya sapu ijuk. Semua orang tertarik dan ingin memilikinya, tentunya kamu patok harga dong untuk orang-orang itu, kamu yang susah-susah mondar-mandir kamar mandi untuk memikirkan cara bagaimana supaya debu dan kotoran dilantai bisa dengan mudah dikeluarkan dari rumah, mencoba berbagai hal dan bertemu banyak kegagalan, dan akhirnya menemukan yang namanya produk sapu ijuk. Tentunya kamu sangat ingin orang memberikan imbalan dong atas jerih-payah kamu itu.

Lantas bagaimana dengan produk-produk digital masa kini ini yang super canggih pula? Kamu pasti sadar dong, kalau mereka dalam menjalankan bisnisnya ini punya kegiatan operasional yang juga mempunyai beban/biaya (pengeluaran) demi kelancaran penggunaan aplikasinya. Jelas dong, Bukalapak dan Shopee tentunya punya tenaga kerja dong, punya kantor dong, punya aktivitas yang senantiasa berjalan sehari-hari dong. Karenanya pastilah akan ada biaya operasional yang harus dibayarkannya. Kalau untuk membuat sapu ijuk tadi, butuh kayu, ijuk, rajutan, dan apalah hal lainnya dalam membuat satu produk tersebut, tentunya paling tidak dia butuh dana pengganti (bayaran) dong bila ada orang lain yang ingin memiliki sapu ijuk itu. Harusnya sih, pola itu juga diterapkan para startup ini bila ingin survive. Lantas untuk menutupi segala biaya operasionalnya, mereka dapat dana darimana? Katanya sih ada caranya.

Beberapa cara para startup menggarap dana selain dari investor ada beragam. Tentu juga bergantung pada orientasi dari aplikasi yang dikembangkan startup tersebut. Ada yang namanya bootstrap. Ada juga beberapa yang menggunakan cara seperti sapu ijuk tadi, yaitu menjual produk ataupun jasanya. Ada juga dengan cara melalui pengiklanan. Juga melalui fitur ataukah akun premium. Tapi dana besar biasanya datang dari investor, hanya saja karena didanai dari pihak luar, tentu ada pula konsekuensi yang harus diterima karena mereka akan terikat satu sama lain dalam suatu kontrak. Makanya mendanai diri sendiri menjadi pilihan yang membuat startup menjadi lebih mandiri.

Nah disini mulai menarik nih, jika kebanyakan dana yang digunakan para startup itu cenderung sangat besar dari para investor dibandingkan dengan kemandiriannya, berarti susah dong usaha tersebut untuk berdikari dan mengandalkan diri sendiri? Jangan salah, sekarang ini memang mereka masih memberikan kenyaman ekstra bagi para penggunanya dengan modal besar dari banyak investor. Semuanya serba gratis, tis, tis. Tapi akan ada saatnya dimana mereka berusaha menggarap keuntungan dari produk "masterpiece-nya" itu. Apa benar iya? Kemungkinannya sih besar.

Beberapa saat kemarin, muncullah berita dimana beberapa waktu yang akan datang salah satu dompet digital yang juga sudah berada pada status unicorn akan membebankan biaya administrasi dikala top-up pada para penggunanya. Berapa? Tenang saja, tidak terlalu mahal, masih lebih mahal kamu menyimpan uang di bank dan kena biaya bunga. Biaya top-up nya hanya dipatok sebesar 1.000 IDR. Mungkin kamu sebagai pengguna setia OVO akan berkata, yaudah cuma 1.000 kan? Gak masalah. Tapi apakah kamu tahu berapa pengguna aktif OVO sekarang ini? Katanya sih sudah mencapai kisaran 115 juta, sudah lebih dari itu bila dilihat total unduhan dari Playstore.  Artinya sekali top up, bila semua pengguna itu melakukan pembayaran 1.000 IDR saja, maka seketika pula pendapatan OVO masuk sebesar 115.000.000.000 IDR. Hitungannya sudah benar kan? Coba kamu kalikan 115 juta dengan 1.000 IDR, berapa hasilnya, sama kan? 115 Miliar IDR bro!

Pola ini hampir sama seperti bank. Hanya saja tentu para pengguna dompet digital lebih memilih menggunakan e-wallet nya itu karena tidak membebankan biaya bunga. Fiturnya lengkap dan banyak, hanya saja mungkin masih belum sekomplit mobile-banking.

Itu baru e-wallet, dan ada juga ternyata social media yang besok nanti sudah memberlakukan aplikasinya yang selama ini sudah gratis dengan menjadi tidak gratis sepenuhnya lagi. Katanya sih Whatsapp nanti akan diberlakukan konsep monetisasi, artinya akan ada iklan yang disempilkan pada aplikasi Whatsapp yang teman-teman akan gunakan. Iklan tersebut bisa hilang, bila kamu memilih untuk membayar 1USD atau sekarang anggaplah setara dengan 14.000 IDR. Jadi kamu bisa menikmati penggunaan aplikasi social media ini tanpa iklan, dengan membayar 14.000 IDR selama setahun. Jadi dalam kurun waktu satu tahun, kamu sudah bisa menikmati Whatsapp tanpa iklan. Bukanlah biaya yang cukup mahal bukan? 14.000 IDR setara dengan semangkok bakso dan sebungkus nasi goreng lah beserta minumannya yang bisa habis satu malam, sedangkan ini nikmatnya dirasakan sampai satu tahun lamanya.

Tapi apakah kamu tahu berapa jumlah pengguna aktif Whatsapp sekarang? 2018 dulu tercatat sudah mencapai 1,5 miliar pengguna aktif. Bisa saja, sampai akhir 2019 kemarin penggunanya sudah mencapai 2 miliar pengguna aktif. Kita asumsikan saja bahwa yang akan merelakan biaya 1USD untuk menggunakan Whatsapp tanpa iklan adalah sebanyak 1/3 dari jumlah pengguna aktifnya, dan kita ambil saja data valid tahun 2018 yaitu sebanyak 1,5 miliar pengguna. Jadi bila dalam setahun ada sekitar 500 juta pengguna yang membayarkan biaya akun sebesar 1USD, maka pendapatan yang masuk ke Facebook ssebagai pemilik aplikasi tersebut adalah sebanyak 500.000.000 USD atau bila dirupiahkan sama dengan 7.000.000.000.000 rupiah, atau sebanyak tujuh triliun rupiah. Itu dengan asumsi hanya 1/3 dari total pengguna, bagaimana kalau ternyata 1/2 atau bahkan semua pengguna lebih memilih untuk membayar 1USD. Bisa menghidupi anak-anak sampai 7 generasi duitnya.

Hanya saja, ini masih menjadi polemik dan belum benar-benar diimplementasikan. Karena kembali lagi kepada prinsip awal berbisnis, high risk, high return. Bisnis di era disrupsi ini, mengambil risiko-risiko yang sangat besar dan cukup gila, namun tentu ada banyak return yang mereka dapatkan diballik banyaknya risiko-risiko yang telah mereka ambil. Seperti kata dari seorang putri canti Bapak Chairul Tanjung, katanya "Kita tidak akan pernah tahu risikonya kalau tidak pernah kita coba, ingat selalu high risk, high return".

Post a Comment

0 Comments