Sisi Konservatisme Dibalik Kemunculan Raja-Raja Baru

Header

header adsjavascript:void(0)

Sisi Konservatisme Dibalik Kemunculan Raja-Raja Baru

Tentu memiliki kekuasaan menjadi salah satu impian yang sangat didambakan banyak orang. Sepertinya separuh permasalahan hidup bisa terselesaikan bilamana kita punya kekuasaan yang cukup tinggi. Bagaimana tidak, pengikut yang banyak, pamour dan popularitas, harta, mahkota, dan tentu wanita bisa dengan mudah berada dalam genggaman seorang penguasa, karenanya menjadi seorang yang memiliki kekuasaan tentu akan membuat alur hidupnya menjadi lebih indah dibandingkan orang yang tidak memiliki kekuasaan. Apalagi seorang Raja. Hidup dengan status seorang Raja akan berjalan jauh lebih mudah dibandingkan dengan status rakyat biasa. Bila status sosialnya dibandingkan, jelas perbedaannya antara si raja dan si rakyat biasa sangatlah jauh. Karenanya, munculnya raja-raja baru yang jadi bahan perbincangan orang-orang akhir-akhir ini bukanlah fenomena yang ekstrim. Potensi itu sudah ada dari dulu.

Dedi Mulyadi bilang, semua orang berhak kok mendeklarasikan dirinya sebagai seorang raja. Iya juga sih, asalkan tidak mendeklarasikan diri sebagai Tuhan kan? Kata beliau, yang jelas jika dia sudah mendeklarasikan diri sebagai seorang Raja, dia memiliki harta dan kemapanan diri, seperti ilmu dan kearifan dan kebijaksanaan agar dapat menciptakan lingkungan kerajaan yang makmur.

Suatu hasrat yang masih manusiawi ketika seseorang ingin menjadikan dirinya sebagai persona yang dipuja-puja, memiliki kuasa, dan banyak pengikut, harta yang banyak, dicintai pengikutnya, dan orang-orang disekitarnya tunduk dan patuh padanya, Kamu sendiri juga mau kan? Hanya saja karena sudah keenakan dengan kehidupan sekarang (zona nyaman), makanya pertanyaan tadi kamu jawab tidak. Tapi, harus diakui bahwa itu adalah sebuah hasrat lahiriah dari seorang manusia bukan? Ketika lahir, kita sudah diperlakukan bak seorang raja. Minta ini dikasih, butuh ini dikasih, keinginan apapun semuanya harus dipenuhi, kalau tidak ya nangis.


Tulisan ini tidak mengajak anda untuk menelisik lebih jauh tentang Kerajaan Keraton Agung Sejagat, ataukah Sunda Empire. Tapi tulisan ini mengajak anda untuk melihat dari sisi konservatisme yang dibawa oleh kerajaan-kerajaan yang masih hangat di media ini. Sudah banyak spekulasi dan argumentasi yang bermunculan terkait munculnya raja-raja ini ke permukaan. Apalagi dengan konspirasi alam semesta dari Sunda Empire bahwa masa expired tata kelola negara di seluruh dunia akan habis di tahun 2020 ini. Semuanya harus diperbaharui lagi, seperti SIM C yang ada di dompet, kalau masa berlakunya sudah habis ya mesti diperpanjang lagi.

Beragam spekulasi yang muncul terkait fenomena ini sudah sangat banyak. Pengalihan isu lah, atau suatu reaksi atas kebosanan terhadap sistem demokrasi yang berjalan lah, ataukah hanya sebuah keisengan saja, biar Indonesia rame. Apapun itu, ya itu sah-sah saja, mereka hanya mengekspresikan hal yang menurutnya mereka sepatutnya ekspresikan. Nyatanya sampai sekarang, belum ada unsur anarkisme yang muncul dari mereka. Apapun maksud dan tujuannya, selama tidak bermaksud memecah-belah bangsa, masih bukan hal yang sangat perlu disoroti terlalu dalam. Kata seorang pengamat politik yang sekaligus akademisi, "Anggap saja sebuah tontonan kebudayaan, tidak usah terlalu ditanggapi berlebihan apalagi sampai ditangkap polisi".

Tapi ada satu sisi yang menarik dari kejadian ini yang beberapa pandangan juga menangkapnya dan menurutkan perlu juga disoroti sedikit. Yaitu, kerinduan masyarakat atas nilai-nilai kebaikan yang membudaya dalam beberapa kultur di beberapa daerah di Indonesia, yang katanya perlahan terkikis oleh atmosfer sosial-politik yang berjalan sekarang ini. Dimana banyaknya politisi malah mengesampingkan nilai-nilai kebijaksanaan dan kearifan lokal yang berkembang di berbagai wilayah di Indonesia, dan lebih condong mengadopsi pola pikir dan konsep kehidupan berbangsa dan bernegara orang luar (luar negeri). Kemunculan raja-raja dan kerajaannya ini menandakan bahwa kondisi tata-kenegaraan yang berjalan di Indonesia sedikit membuat orang kesal, orang-orang ini rindu terhadap tata kelola kenegaraan yang seperti dulu. Image dari seorang raja, yang memiliki rasa tanggungjawab yang penuh, mensejahterahkan rakyatnya, memenuhi kebutuhan pengikutnya, arif, adil dan bijaksana. Nilai-nilai yang bertaut pada konsesi tradisional, dan nilai-nilai kebaikan dari leluhur yang turun-temurun diwariskan.

Kita cermati sedikit sudut pandang Dedy Mulyadi menanggapi hal ini. Beliau mengatakan bahwa masyarakat Indonesia memang sampai sekarang masih memiliki kegandrungan yang sangat besar akan sejarah dan masa lalu, dan selalu berusaha menerapkannya di masa sekarang. Namun yang menjadi problemnya adalah kebanyakan mereka menemukan guru yang salah. Makanya seringkali kita menemukan praktik-praktik yang sebenarnya menyimpang tapi berusaha ditutupi dengan dalih nilai kebajikan, dan kebijaksanaan itu yang selalu diajarkan oleh leluhur (orang tua). Misalnya sajalah dalam konsesi korporasi, ataukah kekuasaan (politik). Tentu sudah tidak asing lagi dan bukan sebuah rahasia lagi bahwa kebanyakan sistem yang berjalan dalam dunia korporasi, pendidikan, dan politik selalu berusaha mengangkat drajat keluarganya dibandingkan orang-orang lain. Sederhananya adalah masih banyaknya praktik Nepotisme. Entah di sekolah, kampus, dunia kerja, industri-industri, dan dunia politik. Penerima Beasiswa saja yang pertama kali dapat adalah tentu orang-orang yang punya relasi yang dekat dengan para pemangku kepentingan di sekolah, kampus, ataukah pemerintahan. Jadinya beasiswa tidak lagi menyasar orang-orang yang benar-benar sepenuhnya berhak untuk menerima itu. Hanya satu contoh, dan tentu dunia kerja dan dunia politik lebih menjalar akan praktik Nepotisme.

Terkait soal Sunda Empire, Dedy mulyadi juga punya perspektif sendiri dalam memaknai gerakan eksotis Sunda Empire. Katanya nilai-nilai yang dibawa mereka berlandaskan dari nilai-nilai yang mengajarkan tentang, kearifan matahari, kearifan gunung, dan kearifan laut. Berdasar dari ajaran Papat Kalima Pancer (kalau tidak salah), yaitu ajaran lingkungan dimana orang Sunda, bersatunya diri dengan kesemestaan. Maka manusia, Tuhan, dan alamnya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Jika seseorang ber-Tuhan, maka tidak bolehlah dia menebang pohon sembarangan, mencemari sungai dan lautan, dan lain-lainnya. Tapi itu ajaran nilai bila kita melihat dari sisi kebudayaan atau kultur yang dibawa, dan nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai kearifan dan kebijaksanaan yang tumbuh dimasyarakat Sunda sejak dahulu. Tentu daerah-daerah lainnya juga memiliki nilai-nilai yang dijaga dan dijadikan amanah yang dibawa-bawa setiap saat, setiap berbuat, ataukah setiapkali berucap, yang diajarkan dari para leluhur (orang tua) kita.

Tentu hampir setiap hari, atau bahkan setiap saat kita menerapkan konsep tatakrama yang diajarkan orang tua kita yang dimana itu bukanlah ajaran yang diajarkan disekolah, melainkan hanya sebuah budaya yang diajarkan turun temurun. Sebuah konsep kearifan dan kebijaksanaan orang-orang terdahulu. Bagaimana kita bersikap dengan orang lain, bagaimana bercengkrama, bagaimana menjaga diri, menjaga nama baik dan nama keluarga, menjaga rasa malu, bagaimana bersikap kepada orang lain, bagaimana menyikapi tamu, bagaimana cara mengayomi perempuan atau istri, bagaimana menjaga ucapana untuk tidak berkata yang tidak sopan, sopan dan santun, bahkan mengatur cara bagaimana memanggil orang yang lebih tua berbeda dengan memanggil teman sebaya. Dalam budaya di daerah saya (bugis), kita membedakan kata affirmative "Iya" terhadap orang yang lebih tua (atau orang yang perlu diberi hormat, umumnya yang lebih tua dari kita), dan juga teman sebaya. Dimana di daerah saya, kita seringkali menggunakan kata "Iyo" untuk menunjukkan sikap "meng-iya-kan" sesuatu. Karenanya, bila kita bertemu dengan orang yang lebih tua atau orang yang patut diberi hormat (orang yang memiliki kepentingan atau kedudukan atau orang yang diberi penghargaan) harusnya menggunakan kata "Iye'", atau umumnya tetap mengatakan "Iya" saja. Penggunaan kata "Iyo" adalah bentuk ketidaksopanan seseorang. Hanya saja dalam keseharian, orang-orang lebih sering menggunakan kata "Iyo", namun bentuk yang lebih santun dan sopannya adalah "Iye'".

Menurut saya, edukasi non-formal terkait etika dan tata-krama yang diajarkan turun-temurun memberikan peran yang cukup besar bagi kita dalam praktik kehidupan yang sebenarnya. Karena itu lebih melekat dengan kita yang seringkali kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sedikit ekstrimnya bila kita mengatakan bahwa, kita lebih nyaman memegang nilai-nilai kearifan dan kebijaksanaan yang diajarkan orang tua dibandingkan etika profesionalisme dibangku kuliah. Tapi tetap, bila itu masih relevan, karena beda jaman beda pula cara kita menyikapai berbagai hal. Hanya saja bagi saya, dan juga Pak Fahri Hamzah pernah bilang bahwa, di era manapun kita hidup nanti, kita akan selalu membutuhkan kaum-kaum konservatisme, bila perlu konservatisme garis keras. Betul juga bukan?

Post a Comment

1 Comments

  1. Selalu suka dengan topik dalam artikel2 dalam blog ini, selalu mengangkat isu-isu yang sedang hangat jadi perbincangan media, isi artikelnya juga lebih bersifat netral, good job

    ReplyDelete