Merasa Dekat, Kenal Saja Tidak

Header

header adsjavascript:void(0)

Merasa Dekat, Kenal Saja Tidak

Saat itu, seorang perempuan yang masih muda jatuh sakit. Saat it dia beristirahat di rumah, melalui media sosial whatsapp milik pribadinya, dia mengunggah beberapa tulisan dan ungkapan yang kira-kira dapat memberinya kesabaran untuk melalui secuil derita yang sedang melanda kesehatan tubuhnya. Karena dia muslim, dia percaya bahwa sakit itu adalah penyembuh dosa, meskipun mungkin dia sadar, kewajibannya seorang muslim masih susah dia penuhi, untuk menutup auratnya (rambut) sebagai perempuan saja masih setengah-setengah. Tapi tidak perlu dikhawatirkan, dalam hadist Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam menegaskan bahwa, "Tidak ada seorang muslim pun yang tertimpa suatu penyakit dan lainnya kecuali Allah akan menghapus dengan penyakit tersebut kesalahan-kesalahannya seperti sebatang pohon yang merontokkan daunnya". HR. Muslim no.2571 dan yang lainnya. Artinya, dia sebagai seorang muslim merassa diberikan jaminan atas pengampunan dosanya bila jatuh sakit. Menagih hal itu kepada Tuhan, mungkin bukanlah hal yang seberapa atau hal yang terkesan keterlaluan dimata Sang Khalik. Jadi, perempuan muda tadi mengirimkan kode-kode kepada Tuhan agar dosanya yang kemarin-kemarin, dan mungkin juga pada saat itu dapat diampunkan. Kode-kode itu dia kirimkan dari story whatsapp nya, "Sesungguhnya sakit yang kamu derita, bukanlain hanya agar Tuhan menghapuskan dosa-dosamu". Katanya.


Cerita tadi adalah cerita fiksi belaka, hanya saja beberapa waktu yang lalu kondisi yang serupa tapi tidak mirip tampak begitu nyata di mata saya. Sepertinya cerita itu sudah tidak berada pada posisi fiksi lagi. Ada versi non-fiksinya yang berbasis fakta. Apa iya? Seorang hamba saking merasa begitu dekatnya dengan Tuhan-nya, dia bisa menagih dan memberikan kode-kode untuk berkomunikasi?

Tuhan kalau dalam perspektif agama saya, jika ingin dekat dengan-Nya maka dekatkanlah dirimu terlebih dahulu dengan-Nya. Ketakwaan menjadi ciri utama seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, konsekuensi logisnya bila kamu mendekatkan diri dengan Allah, maka Allah akan lebih mendekatkan diri-Nya kepada hamba itu. Lantas bagaimana dengan situasi seperti tadi? Apakah tiap-tiap hamba bila jatuh sakit, tak lain adalah bentuk pengampunan (mercy) dari Sang Khalik, Allah kepada hambanya. Namun dalam hal ini, mayoritas ulama menafsirkannya hanya kepada dosa-dosa yang tergolong kecil saja. Biasanya dalam agama islam, seorang yang mendapatkan musibah, atau jatuh sakit seringkali dikonotasikan terhadap penebusan atas dosanya (pengampunan/mercy).


Jumhur Ulama’ mengarahkan hadits-hadits penebusan dosa yang bersifat mutlak ke hadits yang dibatasi ini. Fath al-Bari 10/108 (Sumber: Ruangmuslimah.co)
Pendapat yang tepat dari beberapa pendapat Ulama’ adalah, musibah bisa menjadi hukuman bagi seorang hamba yang melakukan dosa, dan musibah itu sebagai penebus dosanya, ini bila dia tidak menolak takdir dan tidak membenci Allah karena musibah itu. Bila dia bersabar dan mengharap pahala maka ia juga memperoleh pahala atas kesabarannya.
Ibnu Taimiyyah menerangkan:
Tanda-tanda yang menunjukkan bahwa musibah adalah pelebur dosa banyak, apabila dia bersabar maka ia mendapat pahala atas kesabarannya. Pahala dan balasan itu hanya diberikan sebagai balasan atas perbuatan -kesabaran- adapun musibah itu sendiri maka itu adalah dari perbuatan Allah dan bukan termasuk perbuatan hamba, musibah itu termasuk balasan Allah terhadap hambanya atas dosanya dan peleburan dosanya dengan musibah itu. Di musnad imam Ahmad disebutkan bahwa beberapa orang menemui Abu Ubaidah bin al-Jarrah ketika sakit, mereka mengatakan bahwa ia diberi pahala atas sakitnya, Abu Ubaidah menjawab: Aku tidak mendapatkan pahala dan tidak seperti ini namun musibah adalah pengguguran (dosa.pent).
Abu Ubaidah radhiyallahu anhu menjelaskan bahwa musibah itu sendiri tidaklah memberi faedah pahala untuk orang yang terkena musibah namun itu untuk meleburkan dosanya. Sering difahami bahwa pahala adalah pengampunan dosa maka ketika itu hal tersebut adalah pahala (dengan anggapan seperti ini) Majmu’ al-Fatawa 30/363. (Sumber: Ruangmuslimah.co).
Kembali lagi kepada hamba yang sedang jatuh sakit tadi. Prilaku yang terkesan "lancang" seperti ini sepertinya sudah sering kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat. Atau bisajadi, kamu juga pernah melakukan hal serupa saat jatuh sakit. Dikala jatuh sakit, menagih janji Allah agar dosa-dosanya dapat dihapuskan. Berdoa tapi terkesan menagih agar dapat segera diberi kesembuhan, dengan sedikit ungkapan mengancam yang mungkin tidak banyak yang menyadarinya, "Ya Allah, bila aku sakit seperti ini, bagaimana aku bisa beribadah dengan khusyuk kepada-Mu". "Bila sakit begini, jadi susah untuk pergi ke masjid, saya sholat di rumah saja". Kedengarannya sederhana, tapi kadang kita merasa begitu dekat dengan Tuhan seperti sahabat, bagai kepompong yang mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Sehingga, untuk meminta ini dan itu sepertinya bisa sangat mudah ya.
Sepertinya ilusi atas pengampunan (mercy) atas dosa-dosa membuat manusia bertindak begitu lancang kepada Tuhan-nya. Bukannya hal yang salah, karena itu adalah hal yang sudah dijanjikan. Hanya saja yang menjadi kekeliruannya adalah, ketika tanggungjawab yang diemban sebagai seorang hamba (muslim misalnya) yang disepelekan, namun saat susah (jatuh sakit) langsung menagih kepada Tuhan. Logikanya, kamu mengejar dunia, mengesampingkan akhirat (Tuhan), tapi saat dirundung kesusahan, kamu langsung menghadap Tuhan dan menagih janji-janji yang pernah kamu dengar, karena merasa sebal setelah Tuhan mengambil beberapa hal (kesehatan, harta, dan lainnya) dari diri kamu. Tindakan yang terlihat seperti, hampir terlihat seperti anak Tuhan. Merasa dekat, padahal kenal saja tidak.

Tapi kontras antara kewajiban dan hak memang sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Padahal logika sederhananya, untuk mendapatkan hak, kamu sepatutnya menjalankan kewajiban/tanggungjawab kamu terlebih dahulu. Seperti seorang pegawai, atau karyawan yang bekerja dibawah aturan organisasi yang mengikatnya untuk melaksanakan tugas, kewajiban, dan tanggungjawab sebagai tenaga kerja. Setelah itu, baru bisa memperoleh haknya, yaitu gaji/upah.

Manusia yang menagih janji-janji Tuhan-nya adalah sebuah persepsi keakraban yang dibangun oleh manusia itu sendiri. Pun dengan ancaman atas perintah yang tidak dijalankannya dengan menyalahkan kondisi yang dia asumsikan diciptakan oleh Yang Maha Kuasa. Semisal kondisi yang susah, sakit, atau merasa gagal dalam menggapai sesuatu. Sehingga ibadah pun digantungkan terhadap kondisi yang sifatnya diluar dari kontrolnya sebagai hamba (atau dalam artian, kondisi saya ada karena Tuhan yang menciptakan). Jika dimudahkan, maka saya juga dapat dengan mudah menjalankan ibadah saya, bila dipersulit, maka saya juga akan sulit melaksanakan ibadah saya.

Tanpa disadar, kita merasa begitu dekat dengan Tuhan yang kita yakini padahal (mungkin saja), Sang Khalik tidaklah begitu peduli dengan kondisi kamu sekarang. Kalau dalam ajaran agama saya (islam), hambalah yang butuh Tuhan-nya, bukan Tuhan yang membutuhkan hamba. Maka bila kamu tidak menuruti perintah-Nya, yang rugi adalah kamu, bila kamu menyalahkan kondisimu sebagai bentuk pelarian atas kemalasan untuk menjalankan ibadah, yang rugi juga kamu, Itu seperti kamu menagih utang ke teman kamu, padahal yang berhutang adalah kamu bukan dia. Merasa dekat,tapi kenal saja tidak.

Post a Comment

0 Comments