Bahagia ala Filosofi Stoa, Review Buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring

Header

header adsjavascript:void(0)

Bahagia ala Filosofi Stoa, Review Buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring

Filosofi Teras dibuka oleh Henry Manampiring dengan memaparkan hasil survei kekhawatiran nasional dalam negeri (RI). Survei yang sangat menarik yang dapat menunjukkan kondisi stress masyarakat Indonesia dan apa yang menyebabkan stress. Secara sebagai buku yang membahas filosofi (filsafat kuno), Henry Manampiring justru mencoba membungkusnya dengan gaya kontemporer dan faktual (scientific approach). Selain membahas filosofinya, karena sifatnya filsafat stoa yang praktik dan latihan (askesis), makanya buku Filosofi Teras ini kebanyakan membahas kondisi jiwa yang erat kaitannya dengan ilmu psikologi, yang juga pada kenyataannya filsafat kuno yang sudah berumur lebih dari 2.000 tahun ini sudah mengupasnya cukup apik dalam hal melakukan kontrol terhadap jiwa dan mental agar tidak merugikan diri sendiri.

Buku karya Henry Manampiring ini bisa dijadikan panduan awal untuk mengenal stoa/stoic, yaitu sebuah filosofi yang dikembangkan awal oleh Zeno, yang sejak dikembangkannya sampai sekarang masih banyak orang-orang yang mempraktikkannya karena filosofi stoa/stoic ini cenderung melihat kondisi realistis kehidupan yang mungkin dapat mengikis anggapan orang-orang terhadap ilmu filsafat/filosofi yang kesannya mengawang-awang (dan cukup abstrak atau susah untuk ditangkap), filosofi stoa/stoic ini malah memberikan pengikutnya (yang kadang disebut kaum stoa) berbagai cara untuk menjalani hidup dalam kehidupan yang nyata setiap hari, yang dari masa dulu orang menulis di batu sampai masa sekarang orang menulis di awan (cloud), masih saja relevan untuk dipraktikkan.


"If you live according what others think, you will never be rich" - Seneca (Letters)

Salah satu yang membuat buku ini menarik para pembaca adalah dimana ada quote (kutipan-kutipan) bermakna dari para pegiat stoa/stoic dahulu yang dapat membuka pikiran dan hati pembacanya. Karena (mungkin penulis melihat) kebanyakan sekarang, orang membaca buku atau bacaan lainnya ketika mendapatkan qoute yang dirasanya berkesan sangat, dia akan langsung menyimpannya, di foto, atau kalau perlu di hapalin, di post di feed media sosial, lalu dijadikan caption. Lantas desain buku dengan menyisipkan quote yang positif tapi juga bermaksud menyampaikan pesan kepada pembaca adalah cara yang efektif untuk menumbuhkan kelekatan pembaca dengan buku yang dibacanya. Paling tidak setelah membacanya ketika teringat, they'll be like "kemarin ada kutipan menarik deh di buku Filosofi Teras, yang soal itu, jangan menjalani hidup yang dimana kamu mendengarkan tanggapan orang lain, karena kamu tidak akan jadi kaya, itu di halaman mana ya?".

Kalau saya, berkesimpulan bahwa buku ini adalah buku panduan untuk bahagia. Setelah lama mencari makna kebahagiaan, bahagia itu yang mana sih? Kapan kita bahagia? Apa semua orang bisa bahagia bersama-sama? Apa kita bisa bahagia diatas penderitaan orang lain dan sebaliknya? Apa saya melakukan ini bahagia? Apa saya hidup dilapisi dengan kebahagiaan yang benar-benar bahagia? Jawaban dari pertanyaan itu saya dapatkan dari buku ini, hanya saja saya menarik kesimpulan saya sendiri terkait kebahagiaan itu.

Bab terakhir pada Filosofi Teras, Henry Manampiring mengulas terkait kebahagiaan. Katanya kebahagiaan itu adalah efek samping saja, makanya tidak ada takaran standar atas kebahagiaan. Ia adalah kondisi mental a state of mind yang abstrack. Tidak bisa didefinisikan sampai saat kita merasakannya, kebahagiaan itu bukan tujuan, tapi efek samping dari apa yang dilakukan atau telah dicapai. Ada yang merasa bahagia setelah bertahun-tahun menunggu akhirnya dia memiliki anak juga, ada yang merasa bahagia setelah perjuangan panjang menyelesaikan skripsinya, ada yang merasa bahagia hanya karena dapat membantu orang yang kurang berkecukupan, dan berbagai macam versi kebahagiaan lainnya. Sebut saja seorang pengrajin pedang yang menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk menempa pedang yang dia sebagai pengrajinnya merasa sangat bangga dengan usahanya yang gigih dan keras, hanya saja orang lain akan beranggapan bahwa dia itu hanya menghabiskan waktu dalam hidupnya, tidak menikmati hal-hal lain, padahal hidup bukan hanya besi yang dilelehkan lalu ditempa berminggu-minggu lamanya. Akan tetapi, setelah menempa pedang kebanggaannya dan diberikan kepada seorang samurai ternama, lantas dia akan merasakan bahagia, yang bertolak belakang dengan anggapan orang lain yang melihatnya bahwa dia tidak akan merasakan kebahagiaan. Jadi katanya tidak ada formula pasti untuk mencapai kebahagiaan, karena itu bukan tujuan, hanya efek samping saja dari suatu tujuan atau pencapaian seseorang.

Meskipun mungkin kebanyakan orang memberikan standar umum atas kebahagiaan. Misalnya berkelimpahan harta, mendapatkan paras yang cantik/tampan, memiliki tampilan yang menarik atau good looking, keluarga yang harmonis, memiliki teman yang banyak, popularitas yang tinggi, dan hal lainnya yang dirasa jika seseorang memilikinya dia akan bahagia. Akan tetapi, pada kondisi nyata yang terlihat, secara masih banyak orang yang terlihat dan memang merasa bahagia dalam hidupnya tapi tidak memiliki syarat-syarat umum kebahagiaan yang tadi, tidak memiliki harta banyak, tidak cantik-cantik amat, tidak punya folowers ratusan bahkan ratusan ribuan, tapi toh kesehariannya dia terkesan selalu bahagia. Kenapa ya? Kata kak Henry Manampiring, dia adalah orang yang telah menemukan makna dan tujuan hidupnya, dan dia sedang merealisasi hidup. Sama seperti tukang tempa pedang tadi, dia hidup untuk ini, saya bahagia saat menyelesaikannya.

Dari pembahasan awal Filosofi Teras, kamu akan diberikan rujukan kebahagiaan ala stoa. Stoa mengusung kebahagiaan yang mungkin tidak begitu lazim dan saya sangat sepaham dengan kondisi ini. yaitu bahagia apatheia, yang saya tangkap kebahagiaan apatheia yang  dikatakan sebagai ataraxia, sebuah kata dari Yunani yang akarnya dari ataraktos (a = not, dan tarassein = to troubled). Ataraxia dengan demikian berarti not troubled (untroubled, undisturbed). Kebahagiaan yang kita bayangkan sebagai jiwa yang tenang dan damai, digambarkan oleh kaum stoa sebagai situasi negatif, yaitu "tiadanya gangguan". Bahagia adalah saat kita tidak terganggu. Kebahagiaan bagi kaum stoa bersifat "negatif logis", yaitu tiadanya penderitaan, tiadanya emosi, saat kita tida diganggu oleh nafsu-nafsu (seperti amarah, kecewa, rasa pahit, dan rasa iri hati). Nah fungsi buku ini adalah bagaimana cara kita mendapatkan ketenangan itu dan merasakan kebahagiaan ala kaum stoa.

Setelah Filosofi Teras, saya sudah bisa mendapatkan makna atas kebahagiaan versi saya. Jika kamu ditanya bahagia itu apasih? Kalau saya dapat menjawabnya dengan, "bahagia itu saat terbebas dari emosi negatif (marah, kesal, khawatir, cemburu, iri hati, kecewa, dan lainnya)". Karena kecenderungan orang mengaitkan tertawa terbahak-bahak adalah kebahagiaan yang hakiki, tapi kebahagiaan sedangkal itu cukup membatasi arti bahagia. Konsep bahagia apatheia ala kaum stoa mungkin sangat relevan bagi setiap orang untuk mencoba (bersyukur) atas segala bentuk kebahagiaan yang telah dan masih dirasakannya.


Tulisan selanjutnya akan membahas sedikit (lebih) dalam dari isi buku Filosofi Teras, atau sederhananya akan mencoba untuk merefleksikan bahasan-bahasan yang ada dalam buku Filosofi Teras,

Post a Comment

0 Comments