Hal Yang Wajar, Anak 15 Tahun Membunuh Tanpa Merasa Menyesal

Header

header adsjavascript:void(0)

Hal Yang Wajar, Anak 15 Tahun Membunuh Tanpa Merasa Menyesal

Beberapa tahun terakhir, isu terkait kenakalan remaja seringkali dibungkus media dengan sangat dramatis. Dari dramatisasi media, masyarakat pun kadang menjadi sangat parno berlebihan akan hal-hal yang menurut mereka (mungkin) berpotensi menimbulkan dan menumbuhkan kenakalan remaja bagi anak muda. bahkan beberapa orang meresponnya dengan cara yang cukup berlebihan (yang sebenarnya tidak begitu perlu). Sebut saja film Dilan tahun lalu yang sempat di demo oleh beberapa orang (yang menyebut diri mereka sebagai mahasiswa) yang menolak penayangan film Dilan, yang saat itu terjadi disalah satu kota besar di Indonesia. Alasannya bahwa Film Dilan dapat memberikan efek berkepanjangan bagi anak-anak muda yang menontonnya, yaitu membentuk sikap amoral, ini menjadi alasan yang cukup kuat (menurut mereka yang berunjuk rasa).

Perkembangan teknologi, percepatan tersebarnya informasi, dan munculnya beragam media online yang begitu banyak menampilkan beragam hal dan serangkaian aktivitas tiap-tiap pengguna yang sebegitu randomnya, membuat masyarakat semakin dapat melihat segala hal yang mereka sebut dengan kebenaran, dan fakta (menurut mereka). Sebut saja Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, pun Tiktok. Media-media online semacam ini menampilkan beragam konten, vidio, gambar, dan lainnya yang sangat random dan berdasarkan dari algoritma yang cocok dengan akun yang kamu gunakan sebagai user (pengguna). Yang tentu membuat orangtua menjadi cukup harap-harap-cemas untuk memperbolehkan anaknya untuk menggunakan media online yang beragam versinya. Tapi tidak banyak pula orangtua yang tidak berpikir panjang untuk memberikan anak-anaknya kemudahan akses akan beragam hal di dunia maya, seperti media sosial, Youtube, dan games online. Mau bagaimana lagi, zaman sudah berubah, cara bermain anak-anak sudah berubah, cara anak-anak menghabiskan waktu sudah berubah, untuk tidak memberikannya kemudahan akses internet sepertinya bukan cara untuk memperlakukan anak yang baik dan benar dimasa sekarang.

Anak-anak yang menirukan berbagai hal yang dilihatnya di gadget mereka, menjadi hal yang sangat biasa bagi orang tua. Menirukan idolanya, penyanyi, pemain sulap, artis, selebriti, atau pemain musik, menirukan gaya pemain bola, pemain basket, bulu tangkis, tenis, tinju, atau bahkan pemain wrestle, menirukan gaya para karakter yang disukainya di dalam game, sampai fiksinoary yang dilihatnya dalam film, film singkat dan konten serupa lainnya. menirukan gaya Elsa di film Frozen, menirukan gaya berjoget Marion Jola yang dilihatnya melalui feed Instagramnya, melihat gaya bicara Atta Halilintar yang dilihatnya di Youtube setiap hari, dan banyak lagi persona lainnya yang ada di dunia maya.

Jika menirukan apa yang dilihatnya adalah konsekuensi logis dari apa yang seringkali dikonsumsinya melalui internet setiap hari, adalah hal yang wajar, lantas anak 15 tahun kemarin yang membunuh bocah 5 tahun dengan cara yang cukup mengerikan bukannya juga hal yang wajar? Kasus ini bahkan sangat ditanggapi serius oleh berbagai kalangan, bahkan diangkat sebagai bahan materi diskusi di ILC (yang tentunya setelah dibahas semalaman disana tidak akan mengubah apapun). Anak 15 tahun membunuh bocah 5 tahun, merasa tidak menyesali perbuatannya, mengakui perbuatannya dengan berani serta polos (tipikal anak-anak) kepada pihak yang berwenang (menyerahkan diri), menikmati sebuah luapan "emosi" dari dirinya sendiri, merencanakan pembunuhannya dengan cukup seksama,  merasa terinspirasi dari film dan vidio-vidio creep yang selalu ditontonnya, dan merasa enteng untuk berkata bahwa, aku tidak menyesali perbuatanku. Semuanya wajar bukan?


Sebuah analisa Grafolog bahkan dari seorang Graphologist Expert yang tervalidasi, memberikan penjelasan terkait cara menulis anak tersebut yang menarik, dimana penulisan huruf t, y, dan g membentuk segitiga yang sistem pendidikan dimanapun di dunia tidak mengajarkan cara menulis tersebut (tapi seingat saya waktu masih SD, saya dan beberapa teman-teman suka menuliskan beberapa huruf dengan model segitiga, seperti bagian bawah dari huruf g, huruf y, huruf j, dan f. Tapi akhir tahun 2019 kemarin saya cumlaude dan lulus tepat waktu tanpa memotong usus teman sekelas. Analisa Grafolog ini hanya menambahkan faktor kepanikan orangtua saja sih dalam melakukan pengawasan terhadap sang anak (bisa-bisa ada orang tua yang kelewat lebai untuk menanggapi hal demikian nantinya).

Apakah betul alasan-alasan berdasarkan analisa psikologi itu benar-benar dapat mencerminkan prilaku brutal, liar, nakal, dan psikopat anak-anak? Mungkin benar akan berpengaruh, secara mental anak-anak akan terbentuk dimasa-masa belianya. Tapi terkhusus analisa Grafolog, sepertinya tidak begitu membantu. Orang tua yang menjadi pusat pengawasan anak, adalah penyebab utama kecenderungan karakter anak-anak yang terbentuk nantinya. Like Father Like Son, atau buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, atau secara islam mengajarkan untuk "didiklah anakmu 25 tahun sebelum dia lahir". Artinya orang tua benar, dan sangat betul menjadi faktor utama pembentuk kepribadian anak. Lantas bagaimana dengan kasus anak 15 tahun yang ramai ini? Orangtuanya tidak berlatarbelakang begitu miring bukan? Lingkungannya juga  tidak sebegitu mencekam? Mungkin tontonannya?

Kalau berbicara soal membunuh dan alasan mengapa seseorang (manusia) membunuh orang lain, kedua hal tersebut tentu berbeda. Menurut saya, manusia yang membunuh manusia lainnya, adalah hal yang wajar bila terjadi, dan itu tidak perlu beralasan. Disisi lain adalah, yang menjadikan manusia beralasan akan pembunuhan adalah mengapa dia tidak membunuh orang lain? Jadi pertanyaan yang harusnya menjadi pertanyaan untuk mencari sebuah alasan terkait hal seperti ini adalah, apa yang membuat orang tidak saling membunuh? Jawabannya banyak. Kemanusiaan mungkin alasan nomor satu, alasan lainnya setiap orang memiliki hak yang sama untuk hidup, alasan hukum, dan mungkin ada juga alasan dari segi religius lainnya. Jadi manusia sebenarnya tidak perlu alasan untuk membunuh, yang beralasan hanyalah manusia tidak membunuh itu karena apa?

Manusia memberikan alasan pembunuhan hanya untuk mempertegas bahwasannya apa yang dilakukannya adalah benar. Saya membunuh dia, karena dia selingkuh, saya bunuh dia karena dia membunuh orang yang kusayang, saya membunuh dia karena saya benci dia, saya membunuh dia karena dia berusaha merampokku, menodongku dengan senjata tajam, saya membunuh dia karena dia korupsi banyak uang negara, saya membunuh dia karena saya tidak suka, dan alasan lainnya. Itu hanya memperkuat atas apa yang telah dilakukannya saja, yang pada dasarnya apa yang dia lakukan (membunuh) sebetulnya tidak memerlukan alasan.

Jika anak umur 15 tahun, merasa tidak menyesali perbuatannya telah membunuh bocah umur 5 tahun ,ya cukup wajar. Hal itu adalah hal yang wajar bila, memang dia tidak dididik oleh orangtuanya akan hal-hal dasar yang perlu diketahuinya terkait kehidupan orang lain (manusia lainnya). Setiap orang punya hak untuk hidup, setiap orang punya hak untuk merdeka dan bebas menikmati hidup, kita ini manusia berbeda dengan binatang, harus memperlakukan sesama manusia sebaik mungkin karena kita makhluk sosialm dan lainnya yang menjadikan hal itu sebuah alasan untuk dia tidak melakukan hal-hal menyimpang. Bila dia dididik dengan itu, mungkin saja sikap entengnya untuk membunuh bocah 5 tahun itu tidak akan terbentuk, karena dia punya alasan untuk tidak melakukannya, "Sepertinya menarik film dan cerita yang selalu saya ikuti, saya juga ingin membunuh orang, tapi manusia sebaiknya memperlakukan manusia lainnya dengan baik, saya punya sifat kemanusiaan, saya juga peduli dengan hidup orang lain, saya tidak boleh membunuh." Paling tidak sederhananya seperti itu, karena untuk melakukan itu (membunuh), manusia sebenarnya tidak perlu alasan untuk itu, manusia hanya perlu alasan mengapa dia tidak mau membunuh. Sama seperti kamu yang membaca ini, kamu mungkin pernah terlintas pikiran untuk atau sebegitu ingin membunuh orang lain, tapi kamu punya alasan untuk tidak membunuhnya, seperti takut dipenjara, takut dosa, dan lain sebagainya. Bagaimana menurutmu? Wajar bukan?

Post a Comment

0 Comments