Virtue (Kebajikan) Manusia #Refleksi

Header

header adsjavascript:void(0)

Virtue (Kebajikan) Manusia #Refleksi

Virtue diartikan sama dengan kata kebajikan, namun secara filosofis virtue berasal dari kata arete (bahasa Yunani kuno) yang artinya menjalankan sifat dan esensi dasar kita dengan sebaik mungkin dengan cara sehat dan terpuji. Dalam bukunya Filosofi Teras, Henry Manampiring mendefinisikan kata arete atau kita sebut saja dengan "kebajikan" dengan lebih sederhana, yaitu hidup sebaik-baiknya sesuai dengan peruntukan kita. Sebagaimana apa yang telah kita miliki, maka kita mempergunakannya sebagaimana segala hal itu patutnya diperuntukkan (dipergunakan).

Henry memberikan analogi sederhana untuk menjelaskan kata kebajikan ini. Misalnya saja kuda, untuk meraih kebajikannya sebagai kuda, dia harus memperuntukkan "kekudaannya" ke arah yang semestinya "kekudaannya" itu dia peruntukkan. Seekor kuda adalah kuda yang kuat, tangguh, dan bisa berlari kencang disebut dengan kebajikannya (arete/virtue) sebagai kuda. Artinya kuda tersebut sudah bajik, yaitu sudah menjalankan hidupnya sebaik-baiknya sesuai dengan sifat dasar dia sebagai kuda. Manusia pun sama, dikatakan memiliki arete atau dia memiliki kebajikan apabila dia menjalankan hidupnya sesuai dengan sifat dasar dan esensinya sebagai manusia.


Filosofi Stoa, salah satu tujuan yang ingin dicapainya adalah bagaimana kita dapat mengasah virtue/arete atau kebajikan kita sebagai manusia. Memangnya manusia ada di dunia, di alam semesta, diperuntukkan untuk apa? Siapa yang tahu?

Sebagai makhluk hidup, tentunya ada perbedaan dan hal yang sangat tipikal pada masing-masing makhluk yang hidup bersama dengan alam (dunia). Manusia sendiri memiliki hal yang tentu tidak dimiliki makhluk lain, utamanya binatang (karena kedekatan manusia dengan makhluk lain lebih hampir mirip dengan binatang bila disandingkan). hal tersebut adalah nalar, akal, dan rasio dan kemampuan untuk menggunakannya untuk hidup berkebajikan (life of virtues). Manusia yang hidup selaras dengan alam adalah manusia yang hidup sesuai dengan desainnya, yaitu makhluk bernalar. (Filosofi Teras, 32).

Konsep yang sangat ditekankan oleh Filosofi Stoa ini, adalah konsep yang diterima oleh siapapun diseluruh orang di dunia yaitu rasionalitas. Nalar/Rasio manusia dipandang sebagai hal yang abstrak, karunia dari Yang Maha Kuasa, dalam arti yang tak berwujud fisik dan bagian dari ruh manusia dari segi agama. Namun pandangan sains mungkin cukup berbeda, mengatakan bahwa Nalar/Rasio adalah murni sebagai bagian dari fungsi biologis  dari manusia, produk evolusi dari ratusan ribu tahun, sebagai hasil kerja dan interaksi berbagai bagian di dalam otak. Apapun itu, Stoisisme lebih menekankan bahwa rasionalitas adalah fitur unik dari manusia.

Stoisisme mengajarkan bagaimana cara untuk mengasah kebajikan (virtue/arete) pada diri kita. Ada empat kebajikan utama menurut Stoisisme. 1.) Kebijaksanaan (Wisdom), yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan terbaik dalam situasi apapun, 2.) Keadilan (Justice), yaitu memperlakukan orang lain (makhluk lain) dengan adil dan jujur, 3.) keberanian (Courage), yaitu keberanian berbuat yang benar, berani berpegang pada prinsip yang benar. Ini bukan berani dalam artian yang sempit, 4.) Menahan diri (Temperance), yaitu disiplin, kesederhanaan, kepantasan, dan kontrol diri atas nafsu dan emosi.

Bila manusia ingin mengendalikan kebajikan (virtue/arete) yang ada dalam dirinya, keempat unsur kebajikan utama yang ditawarkan Stoisisme diatas dapat kamu latih agar menjadi orang yang bajik dan hidup sebagaimana kamu diperuntukkan.

Post a Comment

0 Comments