Hitung-hitung (Kasar) Dampak Pandemi Covid-19 di Indonesia

Header

header adsjavascript:void(0)

Hitung-hitung (Kasar) Dampak Pandemi Covid-19 di Indonesia

Beragam forecast (peramalan) dari berbagai sumber dan argumentasi dari para pakar dibidangnya mulai bermunculan ditengah wabah Covid-19. Argumentasi yang berdasar itu pun menjadi bahan perbincangan banyak orang, dan tentu menjadi informasi yang cukup penting dan bermanfaat bagi masyarakat disetiap kalangan. Tapi tetap saja, peramalan, hipotesa, dan opini adalah sedikit gambaran  kasar saja dan masih belum menjadi realita.

Badan Intelejen Negara (BIN) dalam pengamatannya meramalkan puncak wabah Covid-19 di Indonesia akan terjadi pada bulan Juli. Katanya akan mencapai 106.287 kasus pada bulan Juli 2020. Sampai sekarang, beberapa daerah di Indonesia pun mulai melaksanakan protokol PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Jika BIN memprediksi puncak wabah Covid-19 akan terjadi dibulan Juli, analisa dan riset lainnya mengatakan bahkan sebelum bulan Juni, wabah Covid-19 di Indonesia sudah berakhir (mungkin opini ini hanya berperan sebagai umpan untuk membuat masyarakat tenang saja). Seorang pakar Statistika, guru besar Universitas Negeri Gadjah Mada, mengatakan bahwa pandemi Covid-19 akan berakhir pada 29 Mei 2020, dengan minimum total kasus positif penderita sekitar 6.174 kasus. Syaratnya adalah dengan intervensi pemerintah menjalankan penanganan Covid-19 nya sebaik mungkin. Prediksi yang sama juga dikatakan seorang ilmuawan di Universitas Sebelas Maret (UNS) yang memprediksi wabah Covid-19 akan berakhir pada 10 Juni 2020, syaratnya sama dengan prediksi yang sebelumnya tadi.

Jadi hasil analisa pemerintah melalui BIN memprediksi puncak serangan wabah Covid-19 akan terjadi pada bulan Juli, sedangkan seorang ilmuwan mengatakan dibulan Juni bisa saja wabah ini sudah berakhir, dan seorang peneliti dan pakar statistika mengatakan bahwa bisa saja di akhir Mei, pandemi sudah berakhir di Indonesia. Seharusnya, prediksi BIN mungkin adalah prediksi yang lebih mendekati realita, melihat BIN adalah tangan negara, dimana tentu segala macam bentuk penanganan dan protokol pencegahan wabah penyakit Covid-19, tentunya diketahui oleh BIN. Artinya prediksi BIN berdasar pada realitas yang memungkinkan bisa terjadi, dibanding prediksi yang lainnya. Seperti itu bukan?

Seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam, prof. dr. Ari Fahrial Syam juga memberikan prediksi terkait wabah Covid-19. Prediksinya adalah menyoal jumlah korban yang bakal terdampak Covid-19, katanya diakhir April ini jumlah orang yang positif (korban) Covid-19 akan berada pada kisaran belasan ribu orang. Bagaimana dengan korban yang meninggal dunia? Beberapa sempat memprediksi akan jumlah kematian yang terjadi di Indonesia bakal melebihi angka kematian yang terjadi di Itali akibat pandemi Covid-19. Diluar dari Indonesia pun, banyak orang-orang yang memprediksikan jumlah kematian yang akan terjadi diberbagai negara dengan mengamati bagaimana proses penanganan masing-masing dari negara tersebut. Namun bila kita melakukan hitungan kasar, angka kematian yang didapatkan terlihat lebih mengerikan. Mungkin.

Sebelum itu, per tanggal 22 April 2020, mari kita perhatikan data resmi dari pusat penanganan Covid-19 RI (Republik Indonesia) berikut.


Source Image: Covid19.go.di

Total kasus yang terkonfirmasi bertambah 283 dari jumlah sebelumnya, yaitu dengan total kasus 7.418 per 22 April 2020. Jumlah pasien sembuh meningkat menjadi 12,3% dibandingkan dengan awal Maret yang berada pada kisaran 7-8%, dan jumlah pasien sembuh sudah mencapai 913. Disisi lain persentase pasien yang meninggal dunia perlahan turun, yang pernah mencapai 9%, mulai turun perlahan dan sekarang berada pada angka 635, tepat pada persentase 8,56%. Menurut data dari Covid19.go.id/situasi-virus-corona/.

Diberlakukannya PSBB diharapkan menjadi protokol pencegahan yang paling mutakhir untuk semakin menyempitkan potensi percepatan penyebaran Covid-19 di Indonesia. Karena sialnya, meskipun kita diuntungkan sebagai negara kepulauan (dimana penyebaran akan jauh lebih lambat dibandingkan negara lainnya karena Indonesia teridiri dari berbagai pulau yang orang-orangnya tidak sebegitu mudahnya untuk berpindah dan menyebarkan virus), hampir dikatakan bahwa setiap provinsi di Indonesia sudah memiliki kasus Covid-19. Kabar baiknya, meskipun sudah lebih dari satu bulan sejak kemunculan pertama kalinya kasus Covid-19, masih ada provinsi yang sampai sekarang hanya memiliki 1 kasus positif Covid-19, yaitu provinsi Nusa tenggara Timur (NTT), dengan 1 kasus terkonfirmasi, sembuh tidak ada, meninggal juga tidak ada. Semoga provinsi tersebut dapat mempertahankan kerentanan posisinya dalam hal penyebaran Covid-19.

Kita kembali pada hitungan kasar angka kematian yang mungkin terjadi. Seorang dokter di Indonesia yang melakukan studinya di Harvard, beberapa hari yang lalu menyatakan bahwa kita bisa memprediksi "kemungkinan terbaik yang bisa terjadi" dengan mengambil sampel tingkat kematian terendah yang mungkin terjadi di dunia. Bila persentase kematian global sampai saat ini berada pada kisaran 5%, dan angka kematian terendah kita ambil di Jerman, yaitu kisaran angka 1% saja, maka kita bisa mengambil "potensi terbaik" yang mungkin terjadi di Indonesia dengan angka kematian 1%. Kita ambil asumsi ini, yang mungkin terlalu utopis. Asumsi utopis lainnya adalah, kita ambil 50% penduduk Indonesia, tarolah Indonesia kita asumsikan penduduknya berjumlah 250.000.000 jiwa, maka 125.000.000 diasumsikan terkena Covid-19. Bila demikian, meskipun hanya 1% saja angka kematian yang terjadi, maka angka yang kita dapatkan adalah 1.250.000 jiwa. Cukup mengerikan, apalagi bila kita memasang angka kematian yang real yaitu kisaran 6-8%, coba kita ambil saja 5% angka kematian, maka angka yang didapatkan yaitu 6.250.000 jiwa.

Kita turunkan lagi persentasi penduduk yang terdampak, bagaimana bila kita asumsikan ada 1/10 orang yang positif terkena Covid-19. Kita akan mendapatkan angka 25.000.000 kasus positif, dengan asumsi ada 250.000.000 jiwa di Indonesia. Kita ambil angka kematian yang hampir realistis, yaitu 5% kematian dari total kasus. Maka angka yang didapatkan adalah 1.250.000, yaitu 25.000.000 kasus positif dikalikan persentase kematian sebesar 5%. Angkanya sama persis dengan asumsi utopis angka kematian 1% dari 50% dari total jumlah penduduk. Bagaimana menurutmu? Bagi saya angka kematian ini cukup membuat merinding. Karena pandemi belum dikatakan berakhir, tepat sebelum berada.pada kondiai dimana semua penduduk dalam negeri sudah dinyatakan negatif dan tidak terkontaminasi lagi Covid-19.

Peningkatan jumlah kesembuhan dari virus dan penurunan jumlah kematian adalah kabar yang sangat baik bagi kita semua. Hanya saja tentu masih berakar pada pertanyaan, kapan semua ini berakhir? Kenapa berakar pada pertanyaan itu? Karena bila semua ini masih belum berakhir, semua aktifitas masih terhambat dan terbatasi, sederhananya semakin hari kerugian akan semakin meningkat, terjadi disegala bidang. Apalagi Pemerintah membenturkan kepentingan ekonomi dengan keselamatan masyarakatnya. Perlahan, dan semakin hari, kita mendengar kabar lagi dimana karyawan di PHK. Kita tidak perlu menanyakan kabar buruh, yang dikontrak berkala dalam jangka waktu yang cukup sebentar, sejak awal diberlakukannya karantina dan protokol social-distancing beberapa dari mereka sudah tidak beraktifitas dengan normal lagi, apalagi yang berhubungan dengan pekerjaan sebagai buruh harian.


Tanpa mengabaikan realitas, kabar baik yang berdatangan belum cukup untuk menyelamatkan. Anggaran yang benar-benar dikabarkan harusnya benar-benar bisa memenuhi kebutuhan para korban Covid-19 yang terdampak. Tapi prioritas alokasi anggaran untuk penanggulangan Covid-19 yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam hal kesehatan juga sudah tepat. Mudik yang sudah dibatasi dan diumumkan langsung oleh Bapak Presiden Jokowi, menandakan bahwa Pemerintah sudah memiliki perencanaan untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya hingga musim hari raya Idul Fitri nanti. Kartu prakerja, jaminan kebutuhan bagi para korban yang terdampak, dan jenis bantuan lainnya yang digaungkan semoga saja benar-benar bisa membantu. Karena paling tidak harapan masih selalu terbuka bagi sesama manusia, sesama manusia akan saling membantu dengan manusia lainnya, tapi langkah taktis Pemerintah juga harusnya menjadi pelampung bagi seluruh awak kabin kapalnya.

Post a Comment

0 Comments