Pentingnya Manajemen Mental (Emosi) Apalagi Ditengah Pandemi

Header

header adsjavascript:void(0)

Pentingnya Manajemen Mental (Emosi) Apalagi Ditengah Pandemi

Ditengah pandemi COVID-19, HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) dan (IPK) Ikatan Psikolog Klinis Indonesia membuka konseling daring (telekonseling) secara gratis bagi masyarakat yang membutuhkan. Bagaimana tidak, sudah lebih dari sebulan masyarakat Indonesia diwajibkan untuk melakukan karantina mandiri (self-quarantine) dirumah masing-masing. Dimana kondisi ini, yaitu menahan diri dirumah, karantina dan isolasi mandiri, tentunya kondisi seperti ini menguras sedikit-demi-sedikit kesehatan mental kebanyakan orang. Dipaksanya setiap orang untuk berhadapan dengan kondisi sepi, kesendirian, sunyi, jauh dari keramaian, dan kebosanan, yang bisa-bisa berujung pada depresi, dan stress yang berkepanjangan, dengan asumsi bahwa masyarakat juga khawatir dengan keberlanjutan hidup nanti setelah pandemi atau bahkan disaat-saat pandemi seperti sekarang, semakin hari semakin meningkatkan kekhawatiran dan rasa was-was setiap orang. Disaat seperti ini, peran Psikolog dalam memberikan ketenangan tentu sangat penting bukan?

Setelah selesai membaca buku dari Henry Manampiring, Filosofi Teras, saat itu juga saya mulai berpikir betapa pentingnya melakukan pengecekan kondisi mental dengan seorang Psikolog (Ahli Psikologi). Saya masih teringat cerita bagaimana kak Henry Manampiring yang terpaksa bertemu seorang psikolog untuk memberikan penilaian terhadap kondisi mentalnya. Selain kak Henry Manampiring, saya juga kenal salah seorang senior di salah satu komunitas di Makassar yang selalu aktif memberikan informasi-informasi tentang betapa pentingnya melakukan manajemen terhadap kondisi mental dan melakukan self-healing terhadapnya, dan bila perlu jangan sungkan-sungkan untuk pergi ke ahlinya untuk mengecek kondisi mental diri sendiri. Sejak mengenal dua orang ini, saya pun ikut belajar sedikit-sedikit terkait ilmu psikologi, dan mulai tertarik untuk bisa juga melakukan konseling dengan seorang yang ahli dalam bidang Psikologi. Untuk meraih ketenangan, kenapa tidak?

Nah untungnya ditengah pandemi ini, HIMPSI membuka kesempatan untuk konseling online secara gratis, dan sayapun ikut menjadi peserta konseling privat. Meskipun mungkin akan berbeda rasanya (pikir saya) bila konseling secara online dan tatap muka.

Source Image: Okezone

Hal pertama yang saya lakukan saat sudah mendaftar untuk ikut telekonseling dan sudah dijadwalkan waktu pertemuannya di media Zoom, saya mencoba melakukan hal yang juga dilakukan Henry Manampiring seperti yang diceritakannya dalam Filosofi Teras. Hal ini sebenarnya sudah saya percayai 100% akan benar-benar terjadi, yaitu ketika menyampaikan kepada teman atau kenalan dimana kita akan bertemu dan melakukan konseling dengan seorang Ahli Psikologi Klinis, lantas bagaimana respon orang-orang pada umumnya? Seratus persen secara umum dan awwam, orang-orang yang kamu beritahukan pasti akan bertanya kembali, kamu stress kah? Kamu gila ya? Ada apa denganmu, apa masalahmu? Kamu stress, jangan-jangan kamu depresi ya? Dan segudang pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya, dimana memang seseorang yang pergi untuk konsultasi atau konseling dengan seorang Psikolog Klinis, selalu dikonotasikan dengan penyakit atau kondisi mental yang negatif, stress, gila, depresi, dan juga frustasi. Padahal peruntukannya bukan semata-mata untuk itu.

Meski demikian, saya tetap berpegang terhadap pandangan dari dua orang yang aktif menjajalkan ilmu dan informasi tentang psikolog yang saya sebut tadi. Bahwa konsultasi atau konseling dengan Psikolog Klinis itu bukanlah semata-mata gambaran dimana seseorang mengidap penyakit kejiwaan, karena Psikolog Klinis menurut saya, memiliki banyak peran dalam melakukan penataan atau sebut saja manajemen mental (kondisi mental) bagi kita secara pribadi. Logika sederhananya sih dengan menjawab pertanyaan seperti ini, apakah orang-orang yang belajar ilmu psikologi (orang-orang yang meraih gelar dengan sarjana psikologi) hanya diperuntukkan untuk mengurusi orang-orang yang gila, tidak atau kurang waras, stress, dan depresi saja? Tentu jawabannya tidak.

Beberapa respon orang-orang yang saya sampaikan terkait konseling dengan Psikolog Klinis, semuanya hampir bertanya kembali seperti itu. Apakah kamu gila, tidak waras, stress, depresi, frustasi dan semacamnya. Kalau saya melakukan analisa sendiri, saya tidak berada pada kondisi demikian. Menurut hasil analisa pribadi. Bagaimana dengan stress atau depresi, atau stress-disorder? Secara pribadi, saya tidak begitu tahu pasti apa ciri-ciri orang stress atau depresi dalam ilmu kejiwaan, hanya saja penilaian saya pribadi menilai prilaku dan keseharian manusia, mungkin bisa dianalisa untuk mengetes dan menilai apakah seseorang dalam kondisi stress ataukah depresi.

Penilaiaan saya pribadi seperti ini; 1. Orang stress atau depresi tidak memiliki hidup yang cukup tertata dengan baik, mulai dari bangun tidur hingga pola makan, sederhananya menurut saya menilai diri saya seperti ini, saya setiap pagi hari, bangun pagi dan selalu bisa bangun pagi untuk memulai aktifitas, meskipun kadang belum beranjak dari tempat tidur dan malas-malasan, tapi tetap saja saya selalu bisa bangun pagi, menyegarkan pikiran, menghirup udara segar pagi hari, dan tidurku berkualitas, begitu juga dengan pola makan saya, maka dari ciri ini saya tidak menggolongkan diri saya pada kondisi stress atau depresi. Karena hidup saya tertata dengan baik. Menurut saya secara pribadi. 2. Orang yang menderita stress dan depresi, senantiasa merasa kesepian atau sendiri. Ada beberapa hal yang bisa menilai apakah kamu itu merasa sepi atau tidak. Salah satunya seperti ini, jika kamu sering dan terlalu sering "merasa rindu" dengan orang yang jauh dengan keberadaanmu sekarang, dan hal tersebut mengganggu aktifitas harianmu, dan juga kamu terlalu sering bercerita tentang kampung halaman, kisah-kisah masa lalumu, dan kehebatan dirimu mungkin di kampung halaman dan di masa lalu, maka menurut saya, kamu dapat dipastikan tergolong orang yang kesepian, susah untuk move-on dengan apa yang melekat dengan diri kamu sekarang. Saya pribadi, meskipun tinggal jauh dari keluarga dan teman-teman dekat, saya tidak merasa terlalu home-sick, saya masih bisa beraktifitas dengan baik, yang lalu biarlah berlalu, diriku dikampung halaman ya jadi diriku disana, saat dikampung orang lain saya harus bisa menjadi diriku dimana aku berada, Karena bila kedirian saat dikampung halaman terlalu melekat, hal itu yang akan memicu kita untuk menolak lingkungan yang terkesan baru. Bahkan menolak perbedaan yang sangat bisa terjadi, apalagi perbedaan budaya atau adat, dan juga perbedaan lainnya. 3. Hidupnya dipenuhi keluhan, setiap hari (mungkin) selalu mengeluh, kurang bersyukur, dan susah me-respect orang lain, merasa terlalu dan lebih terlalu (lebih baik lah) dari pada orang lain dan melakukan hal-hal yang dapat mengalihkan stress dan depresi, misalnya minum minuman keras, merokok berlebihan, narkoba, main perempuan, ketempat hiburan secara berlebihan, dan sebagainya (poin ketiga ini mungkin tidak begitu masuk akal, tapi jika kamu terlalu banyak mengeluh akhir-akhir ini mungkin itu salah satu ciri kamu depresi dan stress).

Jadi setelah melakukan analisa pribadi, dari 3 penilaiaan ciri stress dan depresi berdasarkan asumsi saya pribadi, saya berasumsi bahwa saya tidak begitu memiliki gangguan mental, hanya saja saya merasa perlu melakukan konseling dengan Psikolog Klinis karena saya merasa bahwa kadang-kadang saya susah untuk mengatur emosi (dalam hal ini marah) dalam diri saya. Apa kamu juga merasa demikian? Jika iya mungkin tulisan ini akan sedikit membantu kamu. Karena saat konseling dengan seorang Ahli Psikolog Klinis kemarin secara online di media Zoom, saya hanya membahas pertanyaan ini, "Bagaimana cara mengontrol emosi kita, yang dimana kadang-kadang kita sangat marah dan sebegitu marah, bahkan bila seseorang mengatakan hal yang sangat menjengkelkan atau tidak mengenakkan dihati kita, itu sangat susah untuk diabaikan, dilupakan dan dihilangkan. Meskipun ya mungkin kita secara dewasa dan punya pikiran dan respon yang dewasa terkait hal ini, bahwa itu tidak masalah, perkataan orang lain tidak usah terlalu diambil hati, tidak usah direspon berlebihan, abaikan saja, tapi toh ketika kita beraktifitas, berkegiatan, kerja dan sebagainya, pikiran kadang saja tiba-tiba muncul dan mengingat "hal itu" kembali dan rasa marah, emosi pun kembali lagi muncul dalam hati. Jadi itu pertanyaan yang saya dan Psikolog Klinis dari HIMPSI bahas yang memakan waktu kira-kira satu jam-an.

Setelah bertanya seperti itu, kakak Psikolog Klinisnya, sebut saja kak Fio, langsung memberikan sedikit penjelasan dan gambaran terkait emosi manusia kepada saya. Bahwa emosi manusia itu adalah "sesuatu" yang berada dibawah kesadaran kita sebagai manusia, karena bila berada diatas kesadaran kita sepenuhnya, maka semua orang harusnya dengan mudah bisa merasa sedih, merasa senang atau gembira, merasa takut dan merasa marah. Mungkin dalam dunia akting hal ini bisa dilakukan, tapi secara refleks, semua emosi berada dibawah kesadaran kita sebagai manusia. kak Fio menganalogikan "emosi" manusia itu adalah seorang "tamu". Apa yang dilakukan tamu jika bertamu dirumah? mengetuk dulu, masuk tinggal diruang tamu, dan dia tentu akan pergi bukan? Dia tidak mungkin tinggal bermalam dan dalam jangka waktu yang sangat lama. Nah tugas kamu jika ada seorang tamu datang berkunjung dirumah kamu apa? Kamu bukakan pintu, karena tamu ini punya urusan dengan kamu, maka kamu harus membukakan dia pintu. Apa yang terjadi jika tidak dibukakan? Maka dia akan mengetuk lebih kencang dan keras, dan lebih keras lagi, nah analogi ini sama seperti kamu menahan emosi kamu, iya benar bisa kamu tahan, hanya saja semakin tertahan akan semakin meledak nantinya karena emosi selalu ingin dilepaskan, sebut saja bila kamu menahan emosi sedih, tentu semakin ditahan akan semakin menyakitkan bukan?

Setelah membukakan pintu, emosi kamu akan duduk diruang tamu dan menyelesaikan urusan dia sebagai seorang tamu. Sampai semuanya benar-benar selesai, kamu berdamai dengan tamu, dan menuntaskan segala urusan dengan dia. Sebagai pemilik rumah apa yang akan kamu lakukan? Tentu meladeninya bukan, karena bila tidak dia akan terus tinggal disana, atau mungkin akan pulang tapi besok pasti akan muncul lagi dan datang sebagai tamu lai, mengetuk pintu dan ingin bicara dengan kamu menuntaskan apa yang ingin dia tuntaskan. Nah setelah berbicara, si tamu tentu akan pulang nantinya, dan setelah pulang kamu menutup rumah kamu lagi, dan tamu yang dianalogikan sebagai emosi sudah tidak berdiam diri lagi dirumah kamu.

Bagaimana dengan kasus emosi yang kadang mengganggu aktifitas atau rutinitas harian kita? Nah, itulah mengapa kita menganalogikan "emosi" sebagai "tamu" artinya dia akan datang meski kita tidak memberikan undangan bukan? Tapi kemungkinan terbaiknya adalah, akan ada saat dimana dia tidak datang lagi karena urusan dengan kamu sudah selesai. Jadi perlakukan emosi ini layaknya tamu, kalau prinsip agama sih kita menghargai tamu sebagaimana kita menghargai diri sendiri, atau bahkan melebihi bagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri (serverd).

Inti dari memperlakukan emosi ini seperti seorang tamu adalah bahwa kamu tidak bisa menghilangkan dan mengabaikan emosi kamu dengan mudah, karena secara dia juga adalah "sesuatu" yang berada dibawah kesadaran kita sebagai manusia. Hanya saja secara psikologis, kamu bisa mengendalikan atau mengaturnya, agar emosi itu tidak semerta-merta mengganggu aktifitas harian kamu. Jika tidak bisa untuk dihilangkan dan bisa diatur, maka kamu perlu mengenali emosi tersebut untuk dapat mengaturnya bukan? Karena tanpa mengenali sesuatu, mana bisa kita mengaturnya?

Selanjutnya setelah menjelaskan dan memberikan analogi terhadap emosi, kak Fio memberikan saya tips untuk bisa mengatur emosi-emosi yang kadang muncul dalam hidup (kehidupan sehari-hari). Sebut saja metode "Refleksi". Beberapa orang mungkin sering melakukan ini meskipun tanpa bantuan seorang Ahli Psikologi Klinis. Saat kuliah dulu, saya pun kadang-kadang melakukannya, Melakukan self-compromise, bercengkrama dengan diri, dan berbincang sebagaimana kita berbincang layaknya seorang teman (teman kepada diri sendiri). Terkesan aneh dan bodoh ya? Kabar baiknya, metode ini adalah metode klinis dan praktis dari bidang psikologi.

Kata kak Fio, "refleksi" ini berbeda dengan "evaluasi diri", dimana refleksi kita bercengkrama dengan diri sendiri layaknya seorang teman, tapi evaluasi diri yaitu malakukan penilaian terhadap berbagai hal yang sudah dilakukan dalam satu hari penuh. Paling tidak, menurut saya seperti itu.

Refleksi ini akan membantu kamu mengenali emosi yang muncul dari diri kamu, kamu bisa bertanya berbagai hal dengan diri kamu, terbukalah, dan jadilah teman yang supportive dan tidak mengesampingkan rasionalitas tentunya. Berbeda dengan evaluasi diri, kamu akan menilai apa-apa saja yang sudah kamu lakukan seharian, apakah itu baik untuk saya lakukan lagi kedepannya, apakah hal ini salah, dan sebagainya. Refleksi mengorek kedirian kamu lebih dalam lagi, mungkin saja bertanya hal-hal yang lebih intim lagi? Bukan hanya sekedar apakah yang kamu lakukan baik atau buruk, tapi juga benar ataukah salah secara rasional dan universal.

Penjelasan kak Fio terkait emosi juga bagaimana orang-orang mengekspos atau memproduksi emosi mereka terkait berbagai macam hal. Artinya setiap orang berbeda-beda alasan mengapa dia marah, dalam sisi psikologinya kak Fio menerangkan bahwa setiap orang memiliki kerentanan yang berbedabeda terkait emosi yang menjadi respon. Misalnya kamu adalah orang yang terlalu sensitif, mudah sedih, sedikit-sedikit sedih, mudah nangis, dan sebagainya. Maka jika kamu flashback, mungkin kamu akan mendapatkan "alasan" dan "objek" kerentanan yang ada dalam kesedihan kamu itu. Misalnya kamu menangis ketika boss kamu ditempat kerja atau senior kamu di kampus membentak dan memarahi kamu. Tentu hal tersebut bukanlah bakat terpendam yang kamu miliki sedari lahir, ada alasan mengapa kamu menjadi "rentan" terhadap hal tersebut. Bisa jadi sejak kecil kamu memang sudah sering dibentak-bentak dengan orang tua, kurang diberikan kasih sayang, sejak kecil kamu trauma akan orang-orang disekitar yang membentak dan marah-marah terhadap kamu. Makanya kamu jadi rentan, sedikit-sedikit sedih, melow, dan nangis. Begitu pula dengan emosi lainnya, seperti emosi marah. Kamu rentan dengan apa? Kamu bisa melakukan self-analysis

Setelah bisa mengenali dan berusaha untuk mengendalikan emosi, kita butuh melakukan re-place-ment terhadap emosi tersebut, biasanya kalau kamu marah, sedih atau gusar kamu mau peralihan emosi kamu ke arah yang bagaimana? Atau kamu mau meraih perasaan apa? Biasanya meraih ketenangan bukan? Nah kak Fio dalam sesi akhir konseling saya dengan dia, dia memberikan terapi klinis psikologi yang disebut dengan terapi "relaksasi". Mungkin beberapa orang sering melakukannya, yaitu "find your own quite place", menemukan tempat tenang dalam diri (pikiran) kamu sendiri. Berbeda dengan hypnoterapi, terapi ini hanya memberikan kamu kebiasaan dalam bertindak bila kamu mengeluarkan emosi-emosi yang tidak begitu kamu inginkan, maka kamu bisa masuk kedalam diri kamu sendiri untuk menemukan tempat tenang tersebut. Karena ini terapi, maka susah untuk memberikan arahan lewat tulisan, paling tidak mungkin kamu bisa mencarinya di Youtube atau di media lainnya untuk mempraktikkan terapi relaksasi ini, atau langsung ke Psikolog untuk mencoba mendapatkan ketenangan dalam diri kamu sendiri.

Sampai sekarang, pergi ke Psikolog masih saja menjadi bahan cemohan orang-orang terkait kondisi gangguan mental dan kejiwaan. Padahal kalau menurut saya pribadi setelah konseling dengan seorang Psikolog, saya merasa sebenarnya dan sepertinya semua orang perlu untuk konseling dengan Psikolog, karena dalam mengatasi kegelisahan, kegundahan, dan emosi berlebihan perlu penangan yang tepat dan dari ahlinya secara klinis. Mungkin terdengar cukup berlebihan, tapi berapa banyak orang yang kamu kenal selalu curhat, mengeluh, dan berkeluh-kesah di media sosial? Cukup banyak? Maka mereka sepertinya perlu untuk mengunjungi Psikolog Klinis.

Post a Comment

0 Comments