Can We Survive Through The Pandemic?

Header

header adsjavascript:void(0)

Can We Survive Through The Pandemic?

Apa hari ini sudah terhitung cukup satu bulan sejak diberlakukannya protokol WFH dan Social Distancing di Indonesia? Mungkin kurang lebih seperti itu. Bahkan beragam kegaduhan yang terjadi sejak kemunculan COVID-19 di dalam negeri masih terasa begitu hangat, dari pandemi COVID-19 yang dijadikan alat untuk pertarungan politik (blamming on the other side), sampai pada empati yang dieksploitasi dalam bingkai "Demi meredam penyebaran berlebih dari COVID-19", maka ide untuk membebaskan tahanan (napi) pun muncul.


Tapi setelah beberapa pekan melewati pandemi ini, beragam cara memang perlu dilakukan setiap orang untuk dapat bertahan hidup (bahkan dalam jangka yang lebih panjang lagi, bukan hanya pada tahapan dapat bertahan sampai pandemi berakhir). Tak heran bila tingkah orang-orang dalam merespon pandemi ini semakin nyeleneh.

Coba kita perhatikan persentase kematian wabah COVID-19 di Indonesia beberapa hari ini stagnan di angka 8%-9%, disisi lain setiap hari bertambah paling sedikit 100 kasus baru pasien positif terpapar COVID-19, tapi tentu tanpa mengabaikan sisi baiknya, angka pasien yang sembuh dan bisa survive dari COVID-19 pun juga bertambah dari waktu ke waktu, hanya saja tetap masih lebih sedikit bila dibandingkan dengan angka kematian (atau perbandingan persentasenya).

Meng-eksploitasi dan memanfaatkan situasi menjadi pilihan banyak orang untuk dapat bertahan hidup. Menimbun masker, handsanitizer, dan lainnya, lalu dijual dengan harga yang lebih mahal, atau paling tidak sedikit lebih dinaikkan dari harga biasanya (biar tidak begitu kelihatan rakusnya). Ini juga fenomena yang cukup wajar bila dipandang dari hukum ekonomi, hukum permintaan dan penawaran. Kelangkaan mengakibatkan mahalnya harga suatu barang. Beberapa orang akan berpikiran, "Ini kesempatan jarang terjadi, bagaimana bisa dengan menyimpan, menimbun, atau memproduksi banyak masker dan handsanitizer bisa memberikan kita keuntungan yang cukup banyak". Sampai sekarang, masker dan handsanitizer masih diburu dan dicari banyak orang, masker mungkin yang paling dominan. Di kios sederhana dekat tempat saya tinggal saja, hampir setiap hari dibeberapa hari terakhir ini orang-orang datang mencari masker, beberapa mencari Bayclin dan Soklin (pemutih pakaian untuk dijadikan desinfectan), kalau handsanitizer dimanapun kamu (di kota temlat saya tinggal) bahkan sangat susah untuk menemukannya, beberapa hanya memproduksinya secara mandiri, atau kita sebut saja ilegal secara hukum. Produk yang tidak memiliki legitimasi dari resmi, tapi diperjualbelikan secara massal dan bebas, itu termasuk ilegal bukan?

Sebagai manusia yang mengejar keuntungan dan selalu memiliki pola pikir "Berbisnis" di dunia, memanfaatkan segala kesempatan bukanlah hal yang salah. Ini aktivitas hanya aktivitas bisnis, aktivitas bisnis yang sederhana, berjualan.

Semuanya kembali kepada salah satu hal yang sangat dapat merubah hidup seseorang, uang. Runtuhnya ekonomi secara perlahan, mengakibatkan orang-orang jadi susah untuk bertahan hidup melalui pandemi ini, manakala dihari-hari normal hidup sudah sangat pas-pas-an, bahkan mungkin tergolong susah, masih terbebani utang, ditambah dengan pandemi COVID-19, pergerakan keuangan masing-masing orang pun berubah menjadi kacau. Tidak semua orang siap menghadapi kejadian ekstraordinari ini. Dipikiran banyak orang, bila kita mengatakan banyak orang yang tidak siap menghadapi kondisi ini, mungkin akan langsung mengarah ke masyarakat miskin yang berpendapatan rendah dan dibawah. Tapi apakah kamu memperhatikan kehidupan orang-orang disekitar kamu? Masih banyak orang yang susah untuk taat dengan imbauan pemerintah untuk tetap berdiam diri dirumah? Tidak melakukan aktifitas diluar? Tentu, atau mungkin banyak. Jangankan orang miskin, penjual bakso keliling, warung dan kios sederhana, penjual batagor dan siomay, penjual jajanan harian, tukang ojek, driver online, supir, dan lainnya. Itu yang mendominasi pikiran banyak orang, bagaimana dengan orang-orang yang memiliki penghasilan tetap tiap bulannya, atau yang tidak begitu kekurangan dalam hidupnya dan masih keluar dan beraktifitas tanpa menghiraukan imbauan pemerintah? Apalagi setelah menghitung-hitung pengeluaran bulanan ditambahkan kouta, sekarang ada lagi pengeluaran bulanan berupa masker, sabun cuci tangan, dasinfektan, dan handsanitizer. Atau mungkin tidak samasekali.

Jika melihat lebih jauh lagi, bahkan beberapa dari orang-orang rela untuk mengambil pinjaman (berutang) agar dapat bertahan hidup sampai pandemi selesai. Berusaha bertahan hidup dalam kurun waktu yang cukup pendek, yaitu sampa saat dimana pandemi selesai.

Beberapa warkop dan cafe dan tempat nongkrong masih tetap buka, demi kelangsungan hidup modal mereka harus tetap bergerak. Itu tentu menarik konsumen bandel yang memiliki prinsip kepala batu, dan orang-orang yang sudah bosan tinggal dirumah dan mengalahkan rasa takutnya. Ini bukan kesalahan, pemilik usaha membuka usahanya demi kelangsungan hidup juga. Tentu hal yang sama juga terjadi kepada orang-orang yang tidak (bisa) menerapkan WFH, dan orang-orang lainnya yang harus bekerja dilapangan dan keluar rumah, sedikit dilema diantara dua pilihan, tetap dirumah dengan keadaan yang tidak memungkinkan untuk bertahan lama, atau tetap keluar untuk bisa mempertahankan perekonomian (pribadi ataupun keluarga) dengan risiko membawa pulang penyakit menular yang sedang trendi. 

Pertanyaannya, bagaimana sikap pemimpin negara dapat menjamu rakyatnya sebanyak 250 juta jiwa lebih agar bisa berhasil untuk survive dari pandemi ini? Well, it comes an extraordinary thing, but the respond still in common.

BIN (Badan Intelejen Negara) baru saja menyampaikan berita buruk, bahwa puncak kasus COVID-19 di Indonesia akan jatuh pada bulan Juli. Menandakan bahwa, penanganan serius pemerintah terkait pandemi COVID-19 ini masih belum dilakukan secara serius. Sedangkan negeri China diprediksi memasuki gelombang kedua pandemi COVID-19 setelah aktivitas kembali normal dalam beberapa saat terakhir ini. Menandakan bahwa, negeri tersebut sudah belajar dari kesalahan sebelumnya dimana saat dimana mereka kurang cepat-tanggap menghadapi masalah wabah virus Corona. Seperti melihat dua kepribadian yang berbeda.

Mungkin mata anda sudah melihat cukup dalam, bagaimana "Uang" begitu sangat penting perannya dalam penangan virus ini. Karena premis sederhananya untuk menjelaskannya seperti ini, jika tinggal dirumah, maka tidak ada aktivitas untuk mendapatkan uang, jadi uang pun tidak ada, jika uang tidak ada maka tidak ada pula makanan, dan jika keluar maka bisa melakukan aktivitas yang dapat memungkinkan menghasilkan uang, jadi uang bisajadi ada, jika ada uang maka bisa pula makan.

Tentu kabar baik berdatangan setiap hari, dimana orang-orang dibalik buruknya situasi pandemic, masih banyak juga orang-orang yang saling bahu membahu untuk menolong yang lain. Wardah yang menyumbang 40 Miliar untuk penyediaan prasarana kesehatan, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang menggalang dana bantuan hingga mencapai 500 Miliar, dan juga beberapa Enterprenuer seperti Arief Muhammad dan Putri Tanjung, yang ikut andil menyalurkan bantuan. 

Pemerintah sendiri apakah sudah menyiapkan anggaran untuk penanggulangan pandemi COVID-19? Masih terlihat invicible (jangan dibaca imposible). Tapi mungkin beberapa menganggapnya imposible, karena melihat anggaran yang besarannya puluhan miliar awalnya ingin dialokasikan kepada para influencer untuk menarik pendapatan pariwisata dalam negeri, padahal kala itu Indonesia sudah mulai terjangkit COVID-19. Apabila ada anggaran untuk dialokasikan kepada bantuan bagi masyarakat yang tergolong ekonomi sulit untuk bertahan hidup dirumah tanpa beraktivitas diluar, maka puji syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa tentunya. Sangat Senang rasanya bila pemerintah lebih mencintai nyawa rakyatnya dibanding uangnya.

Bantuan dana untuk bencana ini, awalnya diinstruksikan kepada Gubernur dan masing-masing kepala daerah agar dapat memangkas anggaran yang kurang penting lalu dialokasikan untuk penanganan COVID-19. Sampai pada kabar dimana digelontorkannya kisaran Rp.400 Triliun untuk menangani wabah COVID-19. Itu jumlah yang cukup banyak, mengingat angka itu sama besarannya pendapatan tahunan negara bukan pajak, kalau tidak salah. (cek disini https://www.kemenkeu.go.id/single-page/apbn-2020/). Dananya dari mana saja? Kata Ibu kemenkeu sih dari berbagai sumber. Jika benar adanya, Rp. 400 Triliun itu tentu pekerja yang terkena PHK akibat dari pandemi COVID-19 yang terhitung sebanyak 16.065 pekerja, dan 72.770 pekerja yang dirumahkan tanpa digaji (data dari laporan pendataan pekerja terdampak covid19 dan disnaker, dapat diakses di rubrik asumsi.co) juga mendapatkan bantuan dari anggaran Rp.400 Triliun itu. Selain itu, anggaran Rp.400 Triliun bila dialokasikan dengan bijak dan beradap dimasing-masing daerah, akan dapat memenuhi kebutuhan kelengkapan medis dalam penanganan COVID-19, pemenuhan kebutuhan sembako bagi masyarakat yang terdampak COVID-19, orang tua yang sedang masa karantina tentu tak perlu lagi khawatir dengan anaknya dirumah, dan masyarakat lainnya yang berhak mendapatkan bantuan, karena sudah adanya bantuan anggaran dari pemerintah, semuanya bisa berjalan efektif, dan tes massal dapat dilakukan sesegera mungkin, lalu pemerintah pun mengkarantina wilayah terdampak agar tidak menyebar terlalu jauh melewati provinsi lain di Indonesia, apa itu utopis?



Post a Comment

3 Comments