FACTFULNESS: Naluri Untuk Menyalahkan #9

Header

header adsjavascript:void(0)

FACTFULNESS: Naluri Untuk Menyalahkan #9

Katanya manusia itu suka denying, atau sebut saja suka menyangkal. Apalagi jika terjadi kesalahan. Ya jika kita memakai evolutionary approach, adalah hal lumrah bagi spesies kita untuk melakukannya. Biar apa? Tentunya selalu dengan jawaban biar bisa survive lebih dari individu lainnya. Kok gitu?

Source Image: Thejakpost

Han Rosling dalam bukunya FACTFULNESS menawarkan kita suatu pemahaman atas naluri manusia yang seringkali muncul dan nampaknya juga seringkali diikuti oleh manusia dalam hal take an action, atau mengambil pilihan-pilihan dalam hidupnya. Buku yang mengatakan "Ada 10 alasan kita keliru tentang dunia, dan mengapa segalanya lebih baik dari yang kita kira". Nah kesepuluh alasan itulah yang Rosling sebut dengan naluri manusia yang cenderung keliru dalam pengambilan kesimpulan namun masih sering manusia yakini (ikuti). Kali ini kita sedikit menelisik soal naluri nomor #9 yang Rosling sampaikan dalam FACTFULNESS nya, yaitu manusia dengan naluri untuk menyalahkan-nya.

Mungkin kita seringkali ya melihat isu-isu soal melemparkan kesalahan kepada seseorang lewat berbagai macam tontonan. Film, serieal tv, ataukah drama. Jika ingin melihat bagaimana naluri manusia untuk menyalahkan ini bekerja, kamu bisa melihatnya di serial original dari Indonesia, yaitu Cek Toko Sebelah The Series yang bisa di nonton di Netflix, diproduseri oleh Ko Ernest klo gak salah. Nah diakhir-akhir ceritanya akan ditampilkan isu ini dengan cukup eksplisit. Sedikit spoiler aja ya, kala itu si pemilik Empang Koh Afuk di masukkan dalam penjara nih, karena ada salah satu pelanggan di restaurant yang berlokasi dalam empang pemancingannya juga, yang dimana si pelanggan ini keracunan. Dari masalah ini karena gak cukup bukti dan kurangnya saksi untuk bisa menjawab sumber dari masalah ini, yaitu siapa yang menaruh racun tersebut dalam makanan, membuat orang-orang susah dan si Koh Afuk sebagai pemilik empang dan restauran ditahan di penjara. Nah dari sini nih, ada salah satu karyawan si Koh Afuk, yaitu Habel yang dicurigai oleh karyawan-karyawan lainnya, karena? Yah yang pertama karena penampilannya seperti preman, stereotip dia orang Timur jadi sepertinya dia orang yang tidak begitu friendly (bad-guy gitu), dia bila dibandingkan dengan karyawan-karyawan lain tidak begitu diketahui latar belakangnya sedangkan karyawan lainnya udah lama kerja ama Koh Afuk jadi udah ditau nih gimana karakter mereka, dan beberapa premis-premis lainnya dalam serial yang harus dinonton dlu biar paham hehe.

Jadi singkat cerita si Habel makin ke sini makin disudutkan, dan segala yang ditemukan dan dilihat orang-orang pun makin diasumsikan bahwa itu adalah bukti kalo si Habel yang simpen racun ke makanan. Padahal itu bukan bukti yang relevan untuk membuktikan klo si Habel adalah pelakunya. Namun, dengan kecurigaan Habel berusaha sendiri mengejar salah seorang yang pernah datang ke tempat pemancingan dan bertingkah mencurigakan, yaitu seorang berkacamata hitam yang mengaku buta. Nah si Habel ketemu dia nih di pasar dan ternyata dia gak buta sama sekali, bisa bawa motor. Cerita makin lanjut, dan si Habel pun makin lama makin di sudutkan, nah disudutkannya nih karena orang-orang nih pakai naluri menyalahkannya ini.

Jadi tanpa bukti yang konkrit dan valid, dan relevan dengan inti dari masalah, yaitu pelaku yang menuangkan racun ke dalam makanan, orang-orang malah mebentuk asumsi subjektif yang menjerumuskan si Habel sebagai objek untuk disalahkan. Jadi variabel-variabel yang melekat ke si Habel tadi ya karena dia gak ditahu latarbelakangnya lah, tampangnya yang sangar lah, dan gerak-geriknya yang nampak mencurigakan, nah ini kan gak begitu bisa menjadi bukti kuat kalo dia pelakunya. Nah asumsi ini pun menjadi kolektif, kenapa? Karena orang-orang pun makin dipengaruhi atau terpengaruhi dengan "mencurigai si Habel" adalah satu-satunya jalan keluar biar si Koh Afuk bisa lolos dari penjara dan si Habel pun masuk di penjara. Padahal kan belum kebukti kalau dia yang melakukan tindakan kriminal itu, nah kalaupun sudah ada bukti nih, perlu lagi diselidiki motif si pelaku, jangan sampai bukti itu hanya bukti yang dibuat-buat (framming).

Nah kembali nih ke si Habel yang curiga dengan si buta pakai kacamata hitam tapi cuma pura-pura buta. Setelah dia dikejar dengan si Habel dan kawan-kawan lainnya yang bukan karyawannya si Koh Afuk, karena karyawan si Koh Afuk udah kudu percaya kalo si Habel nih pelakunya, itu menjadi kesimpulan akhir mereka, penjelasan lainnya si Habel udah gak didengerin lagi nih soal si buta yang pura-pura buta. So, setelah di pojokkan dan sedikit di siksa oleh Habel dan teman-temannya, nah akhirnya dia ngaku nih, dia pura-pura buta buat bisa masuk dapur restaurannya si Koh Afuk, terus dia tuang deh racunnya ke makanan itu, racun itu dia simpen di jaketnya si Habel yang kala itu dia berpapasan di dapur dengan si Habel. Nah bukti dan pengakuannya udah ada nih, tapi gimana bisa dipercaya? Dilihat nih motifnya si pelaku, ternyata pria yang pura-pura buta itu hanyalah orang suruhan si Pak Tatang pemilik empang sebelah dari Koh Afuk, motifnya dia untuk mencelakai usahanya koh Afuk ya karena kompetisi, biar bisa ngejatuhin usaha musuh hehe. Nah dalam dunia bisnis, hal ini lumrah terjadi atas dasar kecemburuan it means diterima alasannya. Jadi udah terbukti nih si Habel gak salah dan seluruh orang yang menyudutkannya dan menuduhnya pun minta maaf.

Nah kata si Hans Rosling dalam FACTFULNESS, kadang memang dalam keadaan terdesak tuh kita bakal mencari-cari orang yang perlu disalahkan. Biar ada objek gitu. Misalnya ekonomi jatuh, intinya  salah pemerintah nih gak becus. Mobil di parkiran tiba-tiba penyuk bumpernya, intinya salah tukang parkir, padahal tadi dia sendiri yang nabrak kucing yang nyebrang karena buru-buru ke tempat kerja tapi gak sadar. Nah naluri untuk menyalahkan ini tuh sometimes membuat kita jadi lega meskipun ternyata yang disalahkan itu gak bertanggungjawab sama sekali atas masalah atau kejadian yang terjadi. Nah kita coba pakai framework survivability, kenapa sih ketika kita berada dalam atau hidup dalam masyarakat sosial yang ada banyak individu-individu yang hidup bersama kita, kita bakal merasa lebih nyaman ketika kita langsung melemparkan kesalahan kesatu objek meskipun hanya berbekal asumsi dibandingkan ditahan dulu sembari mencari-cari fakta yang sebenarnya? Ya sederhananya itu bakal membuat kamu lebih bisa survive, karena dengan menyalahkan orang lain, kita akan merasa benar nih atau paling tidak orang-orang disekitar kita akan melihat kita bahwa kita berdiri di pijakan yang benar nih, tidak seperti orang yang dituduhkan atas kesalahan yang berbasis asumsi subjektif aja.

Sering terjadi nih dalam tim, bila kita gagal bakal saling nunjuk-nunjuk untuk melemparkan kesalahan. Kalau kamu bermain game online, pasti sering nih ketemu dengan manusia-manusia yang terlalu nyaman dengan mengikuti nalurinya ini. Padahal orang yang menyalahkan itu adalah sumber kesalahan sendiri, tapi malah menyalahkan orang lain. Nah pada prinsipnya meski demikian, dia tidak bakal merasa seperti itu, karena dengan menunjuk orang lain yang salah maka alhasil dia pun menarik kesimpulan bahwa dia gak salah, tapi yang ditunjuknya itu salah. Padahal setelah pertandingan rank di Mobile Legend, yang bacoot-bacot dan nyalahin tim itu ternyata dapat medal bronze sendiri dalam tim, dan mati paling banyak, dan gold paling sedikit, tapi malah nyalahin orang lain.

Katanya si Hans Rosling, terkadang pun ketika kita sudah menemukan si pembuat kesalahan atau yang jahat, nah pada titik itulah kita berhenti berpikir merasa masalah sudah selesai. Padahal meskipun demikian, masalah itu sendiri kadang lebih rumit dari yang kita bayangkan, krisis ekonomi, pandemi, ataukah kemiskinan dan pengangguran yang rate-nya semakin naik. Daripada mencari-cari kesalahan mending mencari jalan keluar dari masalah atau melakukan investigasi yang berbasis fakta. Sama dengan ketika jatuhnya pesawat SJ182 beberapa waktu lalu, langsung nih orang-orang pada cari-cari kesalahan, pilot lah, penumpang lah yang main handphone, ekor pesawat lah, cuaca lah, mesin pesawatlah, umur pesawatlah, dan seterus-terus-terus-nya. Padahal kan satu hal yang terjadi itu terjadi dari serangkaian peristiwa yang cukup rumit yang tidak hanya satu saja faktor penyebabnya.

Post a Comment

1 Comments

  1. Main game saja bisa ribut dan saling menyalahkan...gimana kalo bagi duit... Hadewhhhh

    ReplyDelete