Membongkar Orientasi Hidup "Memiliki", Review Buku The Art of Living

Header

header adsjavascript:void(0)

Membongkar Orientasi Hidup "Memiliki", Review Buku The Art of Living

Manusia "Modern", yaitu manusia yang hidup dalam masyarakat sibernetik, dimana karakter pemasaran menjadi sesuatu yang tipikal. Manusia digerakkan untuk tunduk kepada sebuah otoritas yang anonim, untuk melakukan apapun yang diinginkan oleh organisasi, untuk merepresi perasaan, meraih prestasi, untuk memperoleh kemajuan, tetapi hanya sejauh hal tersebut sejalan dengan tuntutan sosial kepadanya.


The Art of Living merupakan buku kompilasi dari berbagai macam karangan (text) berupa literatur yang pernah diterbitkan oleh Erich Fromm. Erich Fromm merupakan salah satu pemikir ternama di era modern, pada abad ke-19. Berbagai macam karyanya membuat orang-orang menjadi berpikir lebih dalam lagi tentang kehidupannya. Adapun salah satu bahasan yang menarik yang muncul dari pemikiran Fromm adalah tentang bagaimana mengarahkan orientasi hidup kita. Dimana pada jaman sekarang, dengan segenap kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan jaman, maka modernitas yang disokong penuh oleh kapitalisme yang tiada henti merayu manusia untuk menumpuk hidup yang penuh kepemilikan. Erich Fromm menyebutnya dengan cara hidup yang berorientasi "Memiliki". Timbullah keyakinan semu dari diri, bahwasannya aku adalah apa yang aku miliki, aku adalah pekerjaanku, aku adalah barang-barang mewahku, aku adalah popularitasku, aku adalah status sosialku, dan seterusnya. Identitas diri ini dan kesadaran diri seseorang bergantung pada apa yang ada diluar dari dirinya. Kata Fromm, akibatnya seseorang menjadi terasing, tidak terhubung dengan diri sendiri dan sesama yang didasari dengan ketulusan.


Menariknya buku the Art of Living ini adalah, konsep hidup yang ditawarkan oleh Fromm dari orientasi memiliki ke arah menjadi dipapas sedemikian rupa sehingga kita dapat melihat bahwa sebenarnya hidup dengan orientasi memiliki bukanlah tujuan hidup yang relevan dan mutakhir. Apa yang kamu cari dalam hidup? bila hanya berorientasi untuk memupuk kepemilikan, harta, jabatan, status sosial, ataupun popularitas apakah akan membahagiakan dirimu? Dimana sejatinya awal kedamaian umat manusia tidaklah dari seberapa besar dan banyaknya dan tingginya kepemilikan orang-orang.

Dewasa ini, kebanyakan orang hidup dengan ilusi keabadian atas hal yang dimilikinya. Bahwasannya dengan memiliki segalanya kamu tak terhentikan, dan dapat hidup lama (atau bahkan selamanya?).  Anggapan bahwa memiliki sesuatu itu bersifat permanen didasarkan pada ilusi mengenai suatu substansi yang tetap dan tak terhancurkan. Namun, Fromm menyebutnya bahwa pola pikir dengan orientasi "memiliki" akan menciptakan relasi antara subjek dan objek menjadi relasi yang mati, bukan relasi yang hidup. Karena pada dasarnya objek itu (kepemilikan) tidak pernah bersifat permanen, objek akan hancur, atau harga atau nilainya turun. Maka dengan merekatkan kedirian dengan apa yang dimiliki hanya membuat diri menjadi terasingkan karena patokan akan hal yang diluar dari diri kita.

Apa yang kita miliki adalah yang menunjukkan kedirian kita. Banyak, atau mungkin bisa dikatakan rata-rata orang hidup dengan cara seperti ini. Bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan objeknya bukan hanya berfokus pada benda-benda mati saja. Bahkan hubungan pertemanan, pengetahuan akan suatu hal, gaya atau life-style, cara menanggapi suatu hal, dan sudut pandang menjadi hal yang diklaim bahwa itu merupakan milik saya. orang itu adalah teman saya, kutipan (ungkapan kata) itu adalah miliki saya, mungkin ada orang yang melihat status anda di media sosial atau story anda, lantas mereka meminta ijin untuk merepostnya karena perasaan akan hal yang serupa, juga gaya atau life-style yang diklaim atas kepemilikan diri, dan juga sudut pandang.

Oleh sebab itulah, dalam buku The Art of Living ini Fromm mengatakan bahwa masyarakat modern yang lekat dengan konsep sibernetik, malah menjadikan tiap-tiap orang melekatkan dirinya kepada "karakter pemasaran". yang digerakkan dan tunduk kepada sebuah otoritas yang anonim, untuk melakukan apapun yang diinginkan oleh organisasi, untuk merepresi perasaan, meraih prestasi, untuk memperoleh kemajuan, tetapi hanya sejauh hal tersebut sejalan dengan tuntutan sosial kepadanya.

Karakter pemasaran yang saya pahami dari penjelasan Fromm adalah, dimana seseorang melihat dirinya sebagai suatu hal yang memiliki takaran "nilai" atau "harga" yang membuatnya menjadi berbeda dengan yang lain. Takaran itu didasari atas apa yang dimilikinya, dan apa yang telah dicapainya sampai sekarang. Seseorang akan berusaha meninggikan "nilai" kediriannya tersebut agar mendapatkan tempat yang sesuai dengan aopa yang diinginkannya. Tepat, pada harapan akhir bahwa dengan memiliki segalanya, status sosial, popularitas, materi, harta, dan kekuasaan orang-orang pada umumnya menggambarkan kenikmatan pada hal-hal yang dapat diperoleh tersebut. Pada sudut pandang kebahagian ditaraf ini, Fromm mengungkap bahwa, "Kita tidak akan bahagia dengan segala hal yang sudah kita beli (miliki), dengan keseluruhan gaya hidup kita, begitupun anak-anak kita tidak akan merasa bahagia. bukan tidak mungkin bahwa nanti, akan ada orang yang berani mengatakan kebenaran ini dengan cara yang meyakinkan".

Penyampaian yang sangat lugas dari seorang Fromm melalui bukunya terkait kebahagiaan yang didapatkan dalam menjalani kehidupan. Apakah segala hal yang "dimiliki" dan "dikonsumsi" dapat dijadikan sebagai taraf kebahagiaan hidup seseorang? Melalui buku ini, Fromm membongkar cara pandang kita terhadap gaya hidup "konsumerisme", produktifitas, dan juga sampai pada pemberhalaan. Artikel selanjutnya akan menelisik dan merefleksikan beberapa argumentasi yang disampaikan oleh Fromm melalui buku-bukunya, tentu yang terkandung dalam buku The Art of Living ini.

Mungkin membaca buku ini akan membuat pembacanya sedikit kesulitan untuk memahami beberapa konsep yang dituliskan melalui buku ini, karena memang dari berbagai macam pembahasan yang terdapat didalam buku ini, dibahas lebih dalam lagi dari buku-buku Fromm seperti "To Have or To Be", "The Art of Listening", "The Art of Being", "The Creative Attitude", dan karya-karya Fromm lainnya. Tapi, buku ini dapat menjadi sahabatmu dalam menemukan cara hidup yang dapat membangkitkan rasa kasih dan cinta dalam dirimu, daripada hanya sebuah ilusi bahagia yang kamu ciptakan sendiri.

Post a Comment

0 Comments