Parasite in Real Lyfe

Header

header adsjavascript:void(0)

Parasite in Real Lyfe

Mencoba mengambil keuntungan orang lain, yang mungkin dirasa tidak begitu berpengaruh (merugikan) ke orang tersebut adalah hal yang sepertinya masih kontras, antara berbuat baik dan berbuat buruk. Seperti halnya dalam film Parasite, yang disutradarai oleh Boon Jong Ho yang kemarin sempat memborong penghargaan di Oscars. Penghargaan yang paling memukau yang didapatkannya adalah film Parasite yang memenangkan kategori Best Picture, juga Best Original Screenplay, dan Best Director. Tentu, penghargaan yang didapatkan oleh Boon Jong Ho adalah penghargaan-penghargaan yang tidak mudah untuk didapatkan dipanggung Oscars.

Boon Jong Hoo sendiri sudah memiliki karya-karya yang sebelumnya juga mendapatkan penghargaan. Snowpiercer salah satu karyanyanya yang juga menjadi ikonik sutradara Boon Jong Ho. Pada dasarnya memang, film-film Boon Jong Ho lekat dengan komentar sosial dan seringkali dibungkus dengan bumbu komedi. Film Parasite sendiri cukup menampakkan kritik sosial yang relevan dengan dunia modern. Dibungkus dengan bumbu dark-comedy-nya menjadikan film Parasite menjadi salah satu film yang paling recomended pada tahun 2019 kemarin. Alhasil, ada beberapa pesaing yang berhasil disalip seperti film 1917 yang disutradarai oleh Sam Mendes, The Irishman yang disutradarai oleh Martin Scorsese, dan Todd Philips yang mensutradarai film Joker. Salah satu penghargaan yaitu Best Picture atau Film Terbaik menjadi penghargaan yang membuat Boon Jong Ho semakin bersinar dipanggung Oscars.

Ada tanggapan keren dari doi, dilansir dari vulture.com, "Bong Joon-ho’s worldview comes through most clearly in his endings: clear, bleak, and unrelenting. While his films aren’t necessarily autobiographical, they are personal in the sense that what he wants the audience to feel is the same dread, terror, and anxiety that he feels about the world: the impending climate catastrophe, human-rights abuses, and the ever-widening gap between the rich and the poor".

Jika kamu belum menonton film nya, bisa jadi kamu akan membangaun asumsi awal berdasarkan dari poster filmnya, bahwa film ini adalah film yang bergenre horror, thriller, atau psychological-background. Judul nya saja, memberikan asumsi awal yang seperti itu bukan? Parasite. Dengan pose berdiri tanpa ekspresi, dengan mata ditutup garis hitam, memberikan kesan yang cukup dark tentunya.

Setelah mendapatkan penghargaan bergengsi di Oscars, Parasite dan Boon Jong Hoo kebanjiran review dan tanggapan yang positif. Hanya saja, tulisan ini tidak bermaksud untuk me-review film Parasaite karena sudah ada banyak sekali reviewnya, dan juga tidak bermaksud untuk mencari beberapa hal ganjil dan pesan-pesan tersembunyi dalam film. Hanya saja, tulisan ini menggaris merahkan satu nilai moral yang tampak umum dan jelas terlihat dalam film Parasite. Yaitu, bagaimana orang yang dipercaya, ternyata hanya menjadikan kita sebagai inang (host) agar mereka mendapatkan keuntungan dari kita (atau tepatnya kekurang cerdasannya kita).

Dalam film sangat jelas bagaimana konstruksi scene yang membangun ke-empat karakter yaitu keluarga Ki-Taek (Bapak Kim), menjadikan momentum anaknya Ki-Woo yang sudah dipercaya sebagai pengajar privat anak perempuan dari Mr. Park sebagai lubang untuk memasuki inang sebagai parasite. Biasanya kan di film-film, parasite yang mencari inang mencari lubang terlebih dahulu untuk dapat memasuki ruang kendali inangnya (biasanya kalau manusia ya otaknya, tapi tidak semuanya seperti demikian). Seperti film The Thing mungkin, atau anime Parasite, ataukah Venom musuh dari Spiderman. Nah setelah masuk, mereka lalu mencari keuntungan yang dapat dia peroleh dari inangnya. Biasanya secara biologis, nutrisinya inang diambil si parasit, mendapatkan akses (kontrol) atas tubuh si inang, lalu menikmati fasilitas yang dimiliki oleh si inang. Secara sederhana, film Parasite memiliki pola cerita seperti itu. Ki-Woo yang seorang pengangguran tiba-tiba diajak temannya untuk menggantikannya mengajari putri dari seorang yang kaya-raya secara privat, yaitu keluarga Mr. Park. 

Singkat cerita, Ki-Woo menerima tawaran temannya itu, kenapa tidak. Ki-Woo sekeluarga adalah pengangguran atau orang pinggiran yang tinggal di rumah semi-basemen. Pekerjaan mereka montok di pekerjaan membuat kotak pizza saja. Lalu Ki-Woo yang memang cukup pintar dari segi akademis, berhasil menggantikan temannya dan kelas belajar privatnya berlangsung lebih intens. Bahkan dalam cerita, putri dari Mr. Park yang diajari si Ki-Woo jatuh cinta kepada Ki-Woo, namun kembali lagi sepertinya si Ki-Woo juga memanfaatkan kesempatan ini untuk keuntungan keluarganya. Dari sinilah mulai, rantai parasite keluarga Ki-Taek bekerja. Awalnya saudara perempuan Ki-Woo, diajak untuk ikut bekerja kepada keluarga Mr. Park, dimana celahnya didapatkan ketika Istri Mr. Park mengeluhkan tentang kondisi psikologis anak laki-lakinya yang masih kecil, lantas Ki-Woo merekomendasikan saudara perempuannya itu untuk memberikan semacam terapi rutin atau apalah setiap pekannya, dengan bayaran yang cukup mahal. Tak lama, Ibu mereka juga ikut bekerja di keluarga Mr. Park, sebagai Asisten Rumah Tangga atau seperti PRT-lah. Padahal sebelumnya, MR. Park sudah punya Asisten Rumah Tangga sebelumnya, namun Ki-Woo dan saudara perempuannya mendapatkan celah lagi agar Asisten Rumah Tangga itu dipecat oleh Mr. Park. Lalu tak lama lagi, Ayahnya Ki-Woo, juga menggantikan supir pribadi Mr. Park, tentu juga dengan cara menemukan celah untuk mendapatkan situasi dimana supir tersebut dipecat, nah saat itulah bapaknya Ki-Woo mulai bekerja menjadi supoir pribadi si Mr. Park. Lebih jelasnya, kamu bisa nonton filmnya, sangat seru bila dinikmati sendiri.

Setelah mendengar, melihat, membaca, dan menonton cerita dari film Boon Jong Ho itu, apakah kamu merasa skema ceritanya cukup familiar dalam kehidupan sehari-hari kita? Jadi saya menyederhanakannya seperti ini. Konsep hidup parasite ini dapat diartikan; dimana ketika seseorang, atau beberapa orang mencoba memanfaatkan celah (biasanya karena kepercayaan, relasi atau hubungan pertemanan, dan lainnya) dari seseorang lainnya, agar dia bisa mendapatkan keuntungan dari seseorang tersebut dari segi apapun yang bisa dia dapatkan. Sama seperti teman yang merasa sudah begitu dekat dengan kita, ketika meminjam uang, atau mungkin pakaian, atau korek api (untuk merokok?) atau barang-barang (masih memungkinkan barang berharga kamu juga) lain yang kamu miliki, terkadang susah bagi dia untuk mengembalikannya. Istilahnya sih, rasa kepemilikian doi yang terlalu tinggi, padahal bukan seperti itu juga. Jika iya terkait rasa kepemilikan tinggi, maka jalanan yang ada di depan rumahnya tidak bakalan dibiarkan orang untuk lalu lalang, toh dia merasa memiliki jalan itu. Hanya saja, ini sedikit senggolan dara sifat parasite-nya dia sebagai seorang teman.

Kecenderungan sifat amoral less-moral (kurang bermoral, bukan tidak bermoral ya) ini memiliki syarat-syarat yang tidak begitu mudah bagi si parasit ke inangnya. Hal yang paling utama, dan penting adalah si parasit harus terlebih dahulu mendekatkan diri ke (calon) inangnya. Jika sudah dekat, langsung deh beraksi. Tapi ingat, kembali lagi ke konsep awal tadi, bahwa parasit dapat memasuki inangnya saat dia sudah menemukan celah. Makanya, setelah mendekatkan diri, dia akan berusaha menemukan celah, seperti menjadi sosok yang dipercaya oleh inangnya, atau bahkan sampai pada kondisi dimana dia bisa juga menjadi ancaman bagi inangnya. Misalnya seperti ini, untuk mendapatkan sesuatu dari si inang, si parasit terkadang melancarkan jurus mengancamnya, anggaplah dia akan membeberkan rahasiamu di muka umum bilamana kamu tidak menuruti keinginannya, dan hal lainnya.

Prilaku parasit ini memang sering terjadi dilingkungan pertemanan, tapi jangan salah dalam lingkungan keluarga  malah biasa berakibat lebih parah. Apalagi persoalan materi (uang), karena secara, dalam sistem kekeluargaan, tidak ada orang yang lebih diutamakan selain dari keluarga. Jadi apapun itu. Pekerjaan, jabatan, uang, perempuan, atau pendidikan. Tanpa memperdulikan hal-hal yang lebih rasional seperti mekanisme hukum dan kelangsungan sebuah usaha (perusahaan atau organisasi), perasaan untuk menolong keluarga akan lebih utama dan selalu dinomorsatukan terlebih dahulu. Tidak perlu ditutupi lagi bukan, bahwa pola-pola hubungan kekeluargaan seperti nepotisme masih selalu berjaya ketimbang profesionalitas, dan kredibilitas.

Biasanya tekanan sifat parasit ini muncul dari orang yang lebih tua dari kita, semisal Bapak, saudara dari Bapak, saudara dari Ibu, Om, saudara dari Om, atau sepupulah yang lebih tua dari kita. Paling ngetren sih, sifat parasit ini dalam dunia kerja. Kamu bisa bayangkan betapa banyaknya pengangguran di Indonesia, yang mungkin memiliki kredibilitas yang lebih baik ketimbang orang-orang yang telah bekerja di berbagai perusahaan yang menerapkan pola penerimaan karyawan/tenaga kerja dengan sistem nepotisme. Hanya saja, inang selalu susah untuk menolaknya, latar belakang kesamaan suku, ras, garis keturunan, keluarga dekat, dan mungkin tetangga tanpa hubungan darah saja menjadi faktor yang cukup kuat. Jadi dengan mengorbankan efektifitas dari kelangsungan operasional suatu perusahaan, karena sifat parasit yang sudah menjangkiti si inang, sebagai atasan, yang memiliki jabatan, atau otoritas tentu akan lebih merasa terancam dari parasit yang telah berhasil masuk ke dalam celahnya. Karena kebanyakan kasus, bilamana inang menolaknya, biasanya dia akan diusir dari daerah tempat parasit itu berkembang-biak.

Kamu bisa menelisik sifat-sifat parasit yang mungkin saja, kamu adalah target dari parasit itu untuk dijadikan sebagai inangnya. Bahkan bisa jadi, kamu sudah menjadi inangnya! Tapi ingat saja satu hal, bahwa jangan sampai hanya karena sifat parasit nya orang-orang, kamu jadi mengorbankan banyak hal. Mungkin ada juga sifat toleransi yang bisa kamu tolerir (mungkin bisa kamu tolerir). seperti parasit yang meminta rokok, tiap kali kamu bertemu, mengambil korek, lalu pergi tanpa pamit, berhutang lama dan ujung-ujungnya tidak dikembalikan, atau bahkan bukan cuma uang, sepatu, baju, celana, tas, yang mungkin pernah dia pinjam lalu tidak lagi dikembalikannya, (saya pernah pinjam celana teman untuk naik ujian proposal penelitian tapi sampai sekarang belum saya kembalikan), memintamu mengerjakan hal yang menjadi kewajibannya, dan hal-hal kecil lainnya yang masih bisa kamu tolerir. Meskipun dalam beberapa kasus kamu tetap marah, mengeluh, tapi besok-besok kamu masih dirugikan oleh si parasit itu. Kamu merasa dirugikan, tapi ya mau bagaimana lagi, parasitnya sudah hinggap dan berinang di kamu. Selama belum memberikan kerugian dengan dampak yang signifikan, apalagi merugikan banyak orang (seperti contoh di perusahaan tadi), mungkin masih tergolong baik untuk bisa berteman dengan parasit, tapi kalau sudah keterlaluan, kudu dibasmi kuy.

Post a Comment

0 Comments