Puasa, Hanya Sebuah Agenda Tahunan

Header

header adsjavascript:void(0)

Puasa, Hanya Sebuah Agenda Tahunan

Seperti halnya rokok yang turun temurun menjadi kultur yang sangat melekat dalam corak kemasyarakatan di Indonesia. Puasa pun rasanya hanya dipatenkan sebagai agenda tahunan yang dimana setiap muslim wajib melakukannya, dalam beberapa bagian dari masyarakat, puasa Ramadhan hanya dijalankan seperti halnya upacara pengibaran bendera 17 Agustus-an. Agenda tahunan yang sifatnya wajib dilaksanakan setiap tahunnya.

Kultur masyarakat di Indonesia tentu sangat melekat dengan rokok, lantas kenapa berpuasa Ramadhan sama dengan merokok? Sederhananya seperti ini, budaya merokok yang diwariskan turun temurun, diajarkan oleh nenek moyang dan para pendahulu, sifatnya hampir tak jauh beda dengan aktivitas berpuasa di sebagian kalangan (masyarakat yang beragama islam). Karena sifatnya yang turun-menurun seperti itulah, kebanyakan masyarakat tidak mengetahui esensi dari aktivitas berpuasa, pun yang terjadi pada perokok. Kamu bisa melakukan riset sederhana, kamu bisa tanyakan kepada 20-50 orang perokok yang kamu kenal, tanyakan alasan mengapa ia merokok, pasti kamu akan mendapat beberapa alasan yang kurang melekat pada esensi dari rokok. Bagaimana dengan puasa? Sama halnya merokok, berpuasa pun berlaku hal demikian bagi sebagian orang yang menjalankannya, kebanyakan orang hanya berpuasa saja, menahan lapar dan dahaga, tapi tidak mengetahui esensi dari puasa itu sendiri. Bila dilanjutkan secara lebih luas lagi, mungkin juga masih banyak orang yang tidak begitu tahu esensi dari bulan Ramadhan itu sendiri. Hal ini yang terjadi secara berkelanjutan, puasa dan rokok, diwariskan turun temurun hanya sebagai suatu aktivitas dan rutinitas belaka tanpa disampaikannya esensi dari aktivitas tersebut.


Saya pernah bertanya kepada seorang teman yang merokok, awalnya dia bertanya kepada saya kenapa saya tidak merokok, lantas saya bertanya balik kenapa kamu merokok? Jawab si doi tidak begitu mengarah kepada manfaat rokok yang sebenarnya. Bagi sebagian orang, alasan paling yang membuat mereka merasa membutuhkan rokok adalah karena rokok membuat pikiran menjadi lancar untuk digunakan berpikir, dan berujung pada adiksi (sudah kecanduan). Well, penemuan terbesar di jagat raya pun sepertinya, kebanyakan tidak dibantu oleh rokok.

Kebanyakan perokok hanya merokok sebagai bentuk pelampiasan dikala mulut, dan tangan tidak tahu ingin melakukan apa. Rokok pun menjadi pilihan, bagi orang yang tidak merokok, ngemil bisa menjadi pilihannya. Beberapa alasan perokok juga melakukan itu karena sudah menjadi adiksi, yang dimana pada awalnya, dia juga merokok rata-rata karena ikut-ikut dengan teman, dalam studi di Indonesia, banyak perokok yang awalnya hanya mencoba dan ikut karena faktor lingkungan atau pergaulan saja, setelah mencoba barulah terasa manfaat yang dirasakan dari rokok, yaitu terangsangnya dopamin dan hormon endorpin. Meskipun hal itu tidak dirasakannya secara sadar betul.

Dr. Shigeo Haruyama dalam bukunya yang berjudul "The Miracle of Endorphin", menjelaskan bahwa endorpin adalah salah satu dari sekitar 20 senyawa yang merangsang rasa bahagia (nikmat). Sedangkan Dopamin berfungsi sebagai senyawa yang merangsang rasa semangat, terkadang juga Endorpin menjalankan fungsinya yaitu memperkuat kekebalan dan juga daya ingat. Rokok menjadi salah satu perangsang yang efektif. Tapi, yang menjadi masalah adalah, padanan nikotin yang terdapat dalam rokok, yang membuat penggunanya menjadi kecanduan, oleh sebab itu dalam beberapa kasus, perokok yang sangat aktif terkadang susah untuk melepaskan diri dari rokok karena untuk mencapai kebahagiaan pikiran melalui perangsangan Endorpinnya, dia sudah terbiasa dengan rokok, makanya terkadang ada yang mengklaim bahwa dengan merokok membuat kita dapat berpikir lebih tenang. Padahal faktanya, ketenangan bukan berasal dari rokok, hanya saja rokok telah mengambil ketenangan yang alami dalam dirinya.

Puasa sendiri juga adalah aktivitas yang memiliki esensi yang bukan hanya pada takaran menahan lapar dan dahaga saja, dan juga nafsu akan berbagai macam hal. Apalagi bila disandingkan dengan bulan Ramadhan, mulai dari jaminan pengampunan dosa, kenikmatan malam lailatul qadar, diperbanyaknya amalan sunnah, sarana untuk men-suci-kan diri, menjauhkan dan membersihkan diri dari Laghwi war Rafasi (ucapan yang tak berguna dan amalan yang salah), memberikan kesempatan untuk memberi makan fakir dan miskin, dan untuk menghindari dari perbuatan dosa, dan berbagai keutaman yang esensial lainnya dari berpuasa dan juga bulan Ramadhan. Tidak semua orang islam yang berpuasa di bulan Ramadhan tahu dengan hal ini, maka dari itu terkadang puasa ini sama halnya dengan rokok, hanya aktivitas yang menjadi warisan dari titipan orang terdahulu ke generasi penerus hingga masa sekarang.

...

Sejak abad ke-20, sepertinya baru pertama kali ini seluruh umat muslim diseluruh dunia berpuasa dalam keadaan terkarantina didalam rumah. Sejak diberlakukannya protokol Social Distancing oleh pemerintah, aktivitas-aktivitas yang seringkali dilakukan semuanya beralih tempat dan beralih pola dari pola-pola yang seringkali terjadi sebelumnya, begitupun saat bulan Ramadhan tiba. Serangkaian aktivitas seperti membangunkan orang-orang sahur beramai-ramai satu kompleks, ngabuburit menanti senja, dan buka bareng (bersama), sampai pada tarwih berjamaah. Seketika semuanya di cut dan berganti struktur pelaksanaannya, yang dulunya selalu ramai, sekarang harus dilakukan di rumah masing-masing.

Lantas yang menjadi masalah adalah, ketika kebanyakan orang masih susah untuk melihat bagaimana pengerjaan ibadah secara esensial. Seperti halnya ketika orang-orang yang ngotot untuk tetap melaksanakan sholat di masjid di masa pandemi seperti sekarang ini (Covid-19), padahal bila dilihat dari dampak yang dapat ditimbulkannya, antara mudarat dan maslahatnya. Jika lebih condong kepada hal yang sifatnya merugikan, mending tidak untuk dikerjakan atau dilaksanakan dengan cara seperti itu, karena esensi dari ibdadah bukan hanya semata-mata pada satu jalan saja. Seperti halnya sholat, sholat bukan hanya dapat dilaksanakan di dalam masjid saja bukan?

Pentingnya mengetahui esensi dari hal yang dikerjakan tentu membuat kita lebih cerdas memilih jalan yang kita lalui. Banyak orang yang mengatakan bahwa terkadang ada orang yang berpuasa dibulan Ramdhan, tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya lapar dan haus saja. Jika dilihat dari sudut pandang agama, tentu beribadah tanpa mengetahui maksud dari ibadah dan keutamaan yang ada padanya adalah termasuk kesia-siaan. Seperti halnya merokok dan berpuasa, jika tidak mengetahui alasan apa dan untuk apa melakukannya, bukannya itu hanya suatu kesia-siaan saja?

Post a Comment

0 Comments