Just Being Realistic

Header

header adsjavascript:void(0)

Just Being Realistic

Postingan sebelumnya kita telah mengulas sedikit mengenai khayalan yang dibuat-buat manusia namun memberikan pengaruh yang cukup besar dalam pembentukan peradaban yang kokoh hingga masuk di jaman modern sekarang. "Tatanan Khayal" yang manusia buat, sebagai salah satu produk yang dihasilkan dari kemampuan manusia dalam berimajinasi. Imajinasi manusia memang kuat, terkadang orang-orang bilang kalau imajinasi manusia itu tidak ada batasannya, apapun yang kamu ingin imajinasikan kamu bisa. Well, bagaimana jika kamu mengimajinasikan dirimu memiliki kembar, bisa? Tapi kembar kamu itu persis seperti kamu, dan jumlahnya ada jutaan, atau ratusan juta, atau jumlahnya bahkan memenuhi populasi bumi. Apakah itu bisa kamu imajinasikan? Sekarang? Atau untuk menguji seberapa tidak-terbatasnya imajinasi kamu itu, apakah kamu bisa mengimajinasikan 1 warna saja, yang baru yang tidak pernah digunakan atau di konsep-kan dalam kehidupan manusia sampai sekarang? Hmm kita coba yang lebih sederhana, bisakah kamu mengimajinasikan suatu melodi baru yang belum pernah kamu dengar? Atau cobalah membuat lirik lagu yang belum pernah digunakan para penyanyi terkenal. Oke, tought experiment nya tidak perlu panjang, intinya imajinasi manusia meskipun berada pada ranah subjektif, tentu masih kuat bukan? Apalagi jika sudah berada pada ranah inter-subjektif, hasilnya adalah tatanan khayal yang berkelanjutan.

Berhubung imajinasi bukanlah sebuah realitas, maka sampai kapanpun kamu memercayainya, hal itu tetaplah sebuah khayalan saja. Namun beberapa orang meyakini bahwa mimpi atau khayalan bisa saja jadi nyata, dalam kehidupan selanjutnya. Entah itu di masa depan, beberapa tahun kemudian, ataukah di kehidupan setelah kematian yang orang-orang percaya.

Dunia psikologi menyebutnya dengan mindset, dimana pola pikir manusia menjadi penggerak atas apa yang ingin kita lakukan. Apapun itu, masuk akal atau tidak, tidak ada yang dapat meng-intervensi realitas subjektif yang dibuat oleh khayalan mu, selama itu masih berada pada property-right mu sebagai individu. Namun karena hanya sebuah realitas subjektif, dimana hanya kamu sendiri yang mempercayainya, maka hanya kamu sendiri juga yang akan terdampak olehnya.

Sangat menarik untuk dapat bermain-main dengan khayalan. Entah itu yang kamu sengaja atau tidak, jujur saja sebuah imajinasi yang kamu buat-buat dari taman khayalanmu terkadang memberikan damapak yang cukup nyata bagi dirimu sendiri bukan? Aku sendiri terkadang jika rindu seseorang, aku berkhayal berbincang-bincang dengannya, entah itu saat berkendara bersama di motor, ataukah di salah satu cafe yang entah dimana, ataukah di sebuah tempat yang cukup membuat tenang dan nyaman seperti taman. Ini bukan konsep nostalgia ya, tapi imajinasi yang instant yang terkadang kita bisa langsung melakukannya pada moment yang kita inginkan. Sama seperti diawal tadi ketika kamu berusaha mengimajinasikan dirimu dengan kembaran-kembaran mu yang memenuhi populasi bumi. Cukup menyenangkan bukan bermain-main dengan imajinasi?

Harus diakui sebagai karangan yang tidak nyata, imajinasi bahkan bisa memberikan pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan seseorang. Sebut saja dengan mitos. Kebanyakan orang yang percaya akan mitos karena mereka menganggap bahwa hal ini adalah nyata, kupu-kupu yang masuk dalam rumah menandakan kedatangan tamu, dimana tidak ada realitas objektif yang membuktikan bahwa kupu-kupu dapat berkomunikasi secara langsung dengan manusia. Orang yang dipukuli dengan sapu lidi tidak akan menikah dimasa depan, juga tidak berdasar dari konsep realitas objektif yang menandakan bahwa alat bersih yaitu sapu lidi secara konstan dapat mempengaruhi desire manusia untuk menikah. Benarkan? Semuanya hanya mitos belaka. Tapi orang-orang mempercayainya, dan bukan hanya satu dua orang saja, tapi banyak. Well, inilah yang orang-orang psikologi sebut tadi dengan mindset atau konsep alam bawah sadar.

Terkadang kita juga percaya dengan motivasi yang tinggi untuk meraih suatu hal bukan? Jika kamu sudah berumur 20 tahun lebih sekarang, mungkin kamu pernah mendengar hal ini. Jika kamu punya keinginan untuk meraih sesuatu, khayalkan saja terlebih dahulu kamu berada disana, misalnya sekarang kamu masih SMA dan berkeinginan untuk kuliah disalah satu perguruan tinggi yang populer, dan dijurusan yang didambakan banyak orang. Kamu bisa bayangkan dulu diri kamu berada disana, dibangunan kampusnya, tepat didepan gedung jurusan yang kamu inginkan, dan biasanya diikuti dengan mantra Insya Allah kamu akan mendapatkan jalan untuk bisa ke sana nantinya bila Tuhan berkehendak demikian. Pernah dengar hal serupa?

Dalam kamusku aku memakai istilah hope atau harapan, dan juga dalam kamus keimananku aku menggunakan istilah doa atau juga harapan. Sebagai orang beriman, doa adalah salah satu senjata yang cukup pamungkas dalam menyelesaikan banyak hal, ketidakadilan, kesusahan, kesengsaraan, sampai pada ambang kematian (sakaratul maut). Mungkin konsep doa ini sama dengan mindset dalam dunia psikologi tadi, jadi kita memiliki suatu keinginan - lalu secara tidak sadar kita mendorong diri kita untuk meraihnya - dan setelah meraihnya kita memberikan gratitude dan memberikan penghargaan kepada diri dan faktor-faktor luar yang membantu dalam memenuhi keinginan tersebut. Namun bila hasilnya tidak seperti yang diinginkan, biasanya manusia melakukannya lagi, instead of evaluate theirself. Tapi ini tergantung si manusianya lagi apakah dia benar-benar melihat faktor luar itu berpengaruh ataukah dia sendiri sebagai penggerak sentral untuk dirinya yang berpengaruh. Ini seperti perdebatan Free Will dengan Determinisme.

Bila mengikuti jalan determinisme, kita akan cenderung mnyangkal bahwa kita punya 100% kendali atas apa yang kita lakukan. Semuanya. Bila mengikuti jalan free will, artinya kita cenderung mengakui bahwa segala yang terjadi dalam hidup ini 100% adalah kendali kita. Jika orang yang gagal ujian tadi mengakui bahwa ini adalah karena usahanya yang belum cukup keras atau belum cukup padat, belum cukup keras dalam artian energi, waktu, dan materinya belum sepenuhnya dia kerahkan untuk mencapai taraf "Optimal" untuk meraih lulus dalam ujian, dan belum cukup padat dalam artian segala usahanya bisa jadi sudah optimal namun faktor seperti materi yang dipelajari ataukah metode yang diketahui dalam melakukan usaha belajarnya belum "Optimal", mungkin karena dia tidak punya gadget jadi susah punya referensi dan stuck disana, atau karena perpustakaan jauh atau malas pinjam buku dari teman, ataukah malu minta diajarkan dari teman, tapi itu tetap dalam kategori belum cukup keras juga sih. Nah ini termasuk pemikiran Free Will. Intinya begitu.

Tapi jika orang yang mengikuti ujian tadi mengakui bahwa ini terjadi karena faktor-faktor diluar kendali dia. Biasanya disederhanakan dengan kalimat, "mungkin belum rejeki". Biasanya juga dengan mengatakan peserta lain lebih hebat, sebenarnya ujiannya sanggup cuma kalah berkompetisi saja, atau ini karena kemarin kurang berdoa, tidak tahajjud, dan lainnya, atau bisa juga dengan alasan bahwa ini karena ada yang memakai orang dalam, orang jujur seperti kita susah tembus. Intinya begitu.

Jadi secara ringkas, cara berpikir orang-orang free-will dan determinisme memang hanya persoalan sudut pandang. Akan tetapi dampaknya sangat signifikan terhadap tujuan yang ingin dicapai. Karena kaum free-will akan berfokus kepada dirinya yang akan memberikan triger untuk self-evaluation and improvement. Sedangkan determinisme berpangku dengan konsep "takdir", yaitu semua ada jalannya masing-masing, ada tempatnya masing-masing, ada waktunya masing-masing, ada pasangannya masing-masing, dan seterusnya.

Bagaiman jika kita adalah paduan dari keduanya? Melihat faktor diluar dan juga melakukan introspeksi diri? Well untuk jalan seperti ini, kamusku mungkin melabelinya dengan istilah realistis, namun dengan catatan bahwa segala faktor luar yang berpengaruh adalah variabel yang real juga, atau dalam artian bisa ditelusuri, tidak abu-abu. Sebut saja misalnya kita berpikir bahwa kompetitor lainnya dalam ujian tadi punya orang dalam, makanya meskipun seberapa besar usaha kamu, kamu tetap akan gagal karena tidak punya orang dalam sebagai faktor luar. Nah seperti ini bisa ditelusuri benar atau tidak, jangan sampai hanya menjadi sebuah asumsi belaka, yaitu khayalan yang kamu buat-buat saja. Bagaimana dengan variabel yang susah atau tidak bisa ditelusuri? Seperti apakah doa ku dikabulkan Tuhan atau tidak? Apakah doaku tersampaikan? Apakah ini karma, apakah ini bukan takdirku, dan sebagainya. Ini tentunya susah kamu telusuri boy, karena buku rahasia ilahi tidak diperjualbelikan ditoko buku manapun dan tidak ada situs online resminya di search-engine manusia. So instead of being determinisme, just being realistic. Okay?


Note: Istilah yang digunakan dalam artikel ini didefinisikan sebagaimana yang didefinisikan dalam artikel ini. Terimkasih.

Post a Comment

4 Comments

  1. Being realistic, go with the flow

    ReplyDelete
  2. Ketika antara nyata tetapi ilusi dan ketika impian jadi kenyataan..

    ReplyDelete
  3. terkadang imajinasi lebih indah dari realita jadi banyak berimajinasi bisa menghibur diri...hehe

    ReplyDelete
  4. Sangat bermanfaat, terima kasih

    Jangan lupa untuk mengunjungi www.daewinindonesia.com/blog

    ReplyDelete