Tatanan Khayal Sapiens ala Yuval Noah Harari #BookReview

Header

header adsjavascript:void(0)

Tatanan Khayal Sapiens ala Yuval Noah Harari #BookReview

Kita seringkali mendengar bahwa manusia itu adalah makhluk sosial, tapi mungkin saja karakteristik makhluk sosial manusia adalah salah satu hasil evolusi mereka sebagai Homo Sapiens selama ribuan atau bahkan jutaan tahun. Sampai sekarang dimana manusia menjadi pemegang kendali dimuka bumi, berada pada puncak rantai makanan. Benar kan? Manusia di masa modern bisa saja menghancurkan bumi, atau paling tidak membuatnya berubah menjadi tempat yang beberapa makhluk hidup tidak lagi dapat hidup sebagaimana hidupnya di status quo. Misalnya dibuat kebakaran hutan, membuang limbah dan sampah plastik ke lautan, atau sampai pada perang antar negara. Selain manusia, apa ada makhluk hidup lain yang dapat melakukan itu semua? Pengrusakan dan penghancuran? Jika bertahan dari itu ada, tapi hanya manusia yang dapat melakukan hal digdaya seperti ini. Jadi, manusia atau Homo Sapiens, adalah makhluk hidup yang berada pada puncak piramida ekosistem alam, atau sebut saja rantai makanan.

Bagaimana jika manusia tidak saling kerjasama? Atau kerjasamanya pada kelompok-kelompok kecil saja, seperti serigala ketika berburu. Apakah tetap bisa mencapai pada tahapan manusia modern sekarang ini? Entahlah, yang jelas melalui ikatan sosial antar-manusia, yang saling bekerjasama, saling bahu-membahu, membuat mereka menjadi seolah-olah pemegang kuasa di muka bumi ini. Aturan yang berlaku? Aturan yang dibuat manusia, nilai dan budaya? Manusia juga, yang lainnya beradaptasi saja. Beradaptasi dijadikan hewan ternak, dijadikan tanaman hias dan ikan hias, dijadikan anjing penjaga, dijadikan buruan untuk diambil kulitnya dan kepalanya dan giginya dan gadingnya, dan yadda yadda yadda. Terlalu merah untuk diteruskan, intinya begitulah.

Source Image: Amazon.com

Paragraf pembuka diatas mengingatkanku dengan sebua ungkapan dari seorang karakter villain di Alice in Borderland. Sudah nonton serial terbaru 2021 netflix kan? Original dari Jepang itu, adaptasi manga kalau gak salah sih. Inti ceritanya, 3 orang sahabat terjebak dalam dunia yang seperti bumi (Jepang) tapi semua orang menghilang, dan mereka dipaksa untuk bermain permainan demi mendapatkan nyawa tambahan (waktu hidup) yang lebih panjang di dunia itu. Nah mereka bertemu dengan kelompok yang tinggal di The Beach dan banyak anggotanya, mereka semua berusaha nih mecahin misteri dari dunia ini, mau menyelesaikan permainan. Intinya mereka bertiga bergabung dengan mereka dan terjadi konflik lah, dan tonton saja untuk lebih lanjut. Dari ceritanya intinya mereka harus bisa bertahan hidup di dunia yang mirip versi bumi tapi banyak orang menghilang dan mereka dipaksa bermain permainan survival kalau tidak mau mati, situasinya seperti itu. Nah, ada karakter antagonis yang kalau tidak salah namanya Niragi, dia bilang begini saat ingin memperkosa salah seorang teman dari Arisu, si karakter utama, kurang lebih seperti ini "Kau tahu kenapa membunuh, memperkosa, kekerasan, dan merusak manusia suka lakukan? Itu karena tindakan itu adalah "Human Nature" (karakter alami) dari manusia, dan di dunia ini tidak ada aturan yang berlaku maka kita manusia bisa melakukan tindakan-tindakan itu dengan bebas". Cukup menarik.

 ...

Pertanyaan. Apa yang membuat manusia ingin bekerja sama dengan manusia lainnya? Ingin mencapai cita-cita yang sama? Memiliki kepercayaan yang sama? Memiliki latar belakang yang sama? Berada dalam kelompok bersama? Memegang nilai, adat, dan kebudayaan yang sama? Makan bubur dengan cara yang sama? Apapun itu, tentunya selalu ada motive bukan? Atau sebut saja selalu ada alasan lah yang membuat manusia ingin bekerja sama dengan manusia lainnya. Namun, dewasa ini kita tidak begitu menyadarinya bahwa apa yang kita lakukan dalam sehari-hari kita adalah praktik kerjasama yang dibentuk dalam peradaban modern dengan proses dan sistem yang sudah begitu rumit. Misalnya, kamu beli rokok satu bungkus saja ataukah beli voucher pulsa, kamu sudah bekerjasama dengan banyak pihak yang terlibat dari 1 transaksi tersebut. Kamu membantu si penjual untuk bisa memenuhi biaya kuliah anaknya, dan kamu membantu perusahaan yang memproduksi barang yang kamu beli agar mendapatkan profit, dipihak lain kamu membantu pemegang saham untuk mendapatkan capital gain yang lebih tinggi karena naiknya harga saham dari perusahaan tempat kamu beli yang dimana salah satu faktornya adalah tingginya permintaan barang dan penjualannya, disisi lainnya lagi kamu mebantu negara dalam pendapatan termasuk pajak dan bukan termasuk pajaknya, melalui cukai rokok mungkin ataukah PPN dari voucher pulsa, kamu lalu mebantu negara untuk bisa menggunakan pendapatan tersebut untuk digunakan membangun infrastruktur negara, infrastruktur negara itu adalah halte yang dilengkapi atap dan tempat charger, dan bulan depan kamu melewati halte tersebut dan ta-da, kamu singgah berteduh karena hujan dan setelah lama duduk menunggu hujan reda baterai handphone kamu kosong, kamu nge-charge deh sekalian di halte itu. Gimana? Imajinatif?

Well, faktanya adalah itu semua benar mungkin dapat terjadi, dan fakta lainnya adalah itu semua memang imajinasi. Hah? Kenapa imajinasi? Oke mungkin tidak semuanya, tapi pesan pentingnya adalah, manusia itu bekerjasama dengan kokoh dan kuat, berkat adanya imajinasi. Hah? Kenapa imajinasi?

Oke kita move ke pembahasan utama, yaitu tatanan khayal yang dibuat oleh para Sapiens di muka bumi. Jadi hypotethically, manusia jaman dahulu itu tidak begitu bisa bekerjasama dengan skala yang begitu besar, sebut saja kota yang berpenghuni ratusan ribu warga. Bagaimana cara mengatur dan membuat mereka bersatu? Manusia tidak sama seperti serangga yang hidup berkoloni dari kecil, koloni manusia yang diperkenalkan sejak awal hanyalah keluarga. Karena secara prinsip untuk dapat survive, manusia bisa saja menjadi ancaman bagi manusia lain dalam ekosistem alam yang bebas oleh aturan alam. Aturan alam itu apa? Yang kuat adalah sang raja. Maka dibentuklah yang namanya tatanan khayal, yaitu sebuah konsep yang dibuat-buat oleh manusia atau beberapa manusia lalu diinternalisasi dalam msyarakat majemuk menjadi kepercayaan yang diyakini bersama. Tapi ide ini tidak semerta-merta juga langsung ada manusia yang mengajukan, mungkin ini terjadi dengan metode learn by doing. Wallahualam.

Nah di era modern sekarang, apa saja tatanan khayal yang berhasil membuat manusia secara tidak begitu sadar meyakininya sebagai realitas objektif (kenyataan yang benar adanya) padahal hanyalah sebuah khayalan yang telah dibentuk dari para leluhur.

Sebelumnya mari kita bedakan realitas objektif, subjektif dan intra-subjektif. Realitas objektif adalah kenyataan yang benar-benar terjadi di dunia yang tidak dapat disangkal (meskipun disangkal tidak mempengaruhinya karena itu memang nyata adanya), contohnya api itu panas, nah jika ada orang yang tidak percaya api itu panas dan yakin seyakin yakinnya api itu dingin, maka dia tetap tidak dapat mengubah realitas objektif itu, karena itu adalah kebenaran objektif, sama seperti gravitasi bumi, batu yang keras, dan lainnya. Sedangkan subjektif adalah realitas yang hanya manusia sendiri yang membuatnya, misalnya ada seseorang yang mengaku memiliki teman khayalan, nah si orang ini dengan yakinnya meskipun orang lain tidak percaya, ya dia tetap yakin bahwa ada teman khayalan yang selalu berada disampingnya setiap saat dan seringkali diajaknya mengobrol, dan yang terakhir adalah inter-subjektif, nah ini adalah buat-buatan atau khayalan manusia juga tidak begitu benar-benar nyata, hanya saja ini berlaku tidak hanya pada satu individu seperti teman khayalan tadi, tapi diyakini oleh masyarakat yang banyak atau bahkan mungkin semua manusia? Mungkin tidak, sebut saja banyak orang yang meyakininya. Misalnya uang, uang itu tidak ada, tidak ada nilai pada uang, hanya tulisan, gambar pahlawan, dan angka, kapan-kapan kita bisa mengganti uang kertas dengan batu, lalu kita ukir wajah pahlawan dan ditulis legalitas Bank Indonesia dan nilai tukarnya, well it's the same thing right? Bisa terjadi tapi yang penting adalah semua orang meyakini bahwa batu dengan ukiran-ukiran seperti itu adalah bernilai demikian, dan demikian, dan demikian.

Nah ini nih yang kita bahas dari tadi, realitas subjektif tapi inter-subjektif. Yaitu keyakinan yang hanya buah pikir manusia (khayalan/buat-buatan) yang menjadi seperti realitas objektif (kebenaran real) karena banyak atau hampir semua orang meyakininya. Sepertilah uang, keadilan, kesetaraan, hak-hak manusia, perseroan, dan kapitalisme, sistem politik bersama, dan juga kemerdekaan.

"Tunggu, tunggu, tunggu, mungkin analogi uang tadi bisa diterima sih bila digantikan kayu atau batu atau kawat gigi, tapi kalau hak asasi manusia, keadilan, dan kemerdekaan? Wah itu berat, mana mungkin itu cuma khayalan, itu memang ada bukan?"
Sayang sekali, itu semua memang hanya buah khayal manusia. Singkatnya dari yang dijelaskan Yuval Noah Harari dalam Sapiens-nya soal hak asasi manusia seperti ini, bahwa makhluk hidup itu tidak ada yang memiliki hak, tapi mereka mempunyai ciri. Burung itu terbang apa karena punya hak? Yah tentu karena punya sayap dong, meskipun kamu bilang dia punya hak terbang tapi kalau sayapnya di potong satu, gimana?

"Tapi manusia berhak hidup toh, itu hak?"
Yah sama saja, manusia hidup bukan karena dia ber-hak hidup, tapi karena dia masih punya jantung yang berfungsi memompa darah, saluran pernafasan yang menjalankan sistem pernafasan, pertukaran O2 jadi CO2.

"Tapi dia ber-hak hidup, nyawa manusia itu penting, itu adalah hak mereka untuk dapat hidup, tidak boleh diganggu, tidak boleh sembarangan dibunuh dan diambil nyawanya, itu adalah hak bukan?"
Nah kalau seperti itu, itulah yang dinamakan tatanan khayal, yaitu sebuah konstruk sosial yang dibuat-buat oleh manusia atau segelintir manusia lalu diwariskan secara terus menerus lalu semakin dikembangkan dan semakin menguat. Salah satunya si hak manusia tadi, secara kita bisa kembali tadi ke kutipan dari si Niragi di serial Alice in Borderland, manusia bisa saja menjadi buas, membunuh, memperkosa, melakukan tindak kekerasan, tapi apa yang menghalangi mereka melakukannya? Yah tatanan khayal ini, memalui keyakinan atas tatanan khayal yang dibuat-buat oleh leluhur mereka sendiri, membuat mereka bisa saling menjaga dan melindungi dan bekerjasama dengan baik dalam masyarakat majemuk. Wonderful.

Konsep hak asasi manusia dan kesetaraan, kebanyakan diklaim dari ajaran-ajaran agama dan nilai-nilai budaya. Nah jika dilanggar tentu ada konsekuensinya, maka dari itu penting untuk tetap ditaati bahwa manusia punya hak hidup, gak bisa seenaknya diberhentikan bernafas seperti kasusnya Floyd tahun kemarin.

Well, meskipun hanya sebuah hasil dari imajinasi manusia, tatanan khayal ini menjadi kunci sukses manusia bisa saling bekerja sama dan membangun peradaban lebih maju dan modern dengan mudah. Apalagi dengan diberlakukannya pasar bebas, dimana bukan hanya tetangga rumah, bahkan negara jauh pun kita bisa bekerjasama dalam hal profit-gain, berawal dari tatanan khayal uang tadi. Kita bisa beli buku di Amazon dan baju di E-bay. *udah bener gak tuh? CMIWW ya.

Bagaimana dengan agama? Salah satu elemen yang sangat membantu manusia bisa bekerjasama, tolong-menolong korban bencana atas nama agama, sedekah atas nama agama, membangun tempat ibadah bersama atas nama agama, apakah itu juga hanya bualan saja? Hanya tatanan khayal yang juga diwariskan secara turun temurun? Hmm. Jika masih ada hal yang memungkinkan dan belum begitu jelas jawabannya, kita hanya bisa menjawab bisa tidak bisa iya, yang jelas kalau masalah eksistensi Tuhan atau entitas omnipotent, kembali kepada keyakinan masing-masing. Intinya tatanan khayal yang membantu kita membangun peradaban selama berabad-abad ini dan tetap kokoh adalah karena realitas inter-subjektif ini yang meskipun hanya berupa khayalan, menjadi begitu nyata dan real, seakan akan hak-hak manusia tadi itu dan kesetaraan manusia sudah diinternalisasi kemasing-masing individu manusia oleh para dewa-dewa dan roh kudus dan malaikat-malaikat yang tidak diketahui keberadaannya. Tentu juga, karena ini dapat memudahkan kita dalam hal kerjasama, memudahkan kita menjalankan hidup. Namun ada seorang bangsawan yang berkata begini dahulu kala, "Sebenarnya Tuhan itu tidak ada, tapi jangan kamu beritahu pelayanku (pembantuku), karena bila dia tahu nanti aku dibunuhnya tengah malam".

Post a Comment

0 Comments