Akuntansi Pernikahan

Header

header adsjavascript:void(0)

Akuntansi Pernikahan

Nikah, mungkin jika dilakukan riset sepertinya akan menjadi salah satu kata yang paling sering diucapkan sekaligus paling sensitif untuk didengarkan. Seperti kata sayang, dan gendut. Tentunya masih berdasarkan pandangan dan perasaan tiap-tiap individu saja, namun secara budaya dan aturan konvensional yang mengikat terkait pernikahan membuatnya menjadi suatu seremonial yang sangat sakral, dan moment yang penting bagi setiap insan manusia. Menikah sederhanya memilih untuk menggabungkan dua kehidupan yang berbeda menjadi satu untuk tujuan yang sama. Iyalah tujuannya jadi sama kalau tidak sama ya ngapain disatukan dalam ikatan pernikahan. Makanya menikah dengan orang yang berbeda keyakinan (agama) dengan kita itu susah, karena pikirannya pasti ke akhirat, kalau orang muslim menikah dengan yang bukan muslim ya yang muslim mana bisa mencapai akhirat yang dia ingin-inginkan (surga) kalau iman pasangannya tidak sejalan dengan iman yang dia pegang. Kok bahasannya itu sih.

Nah tadi kita definisikan nikah dengan gambaran dimana ada dua insan yang menggabungkan hidupnya menjadi satu tujuan. Kalau dalam istilah akuntansi itu namanya penggabungan usaha. Emiten atau badan usaha ini bisa kita lihat sebagai manusia dalam perspektif akuntansi. Lantas bagaimana ya jika kita melihat pernikahan ini dengan kacamata akuntansi? Kayaknya menarik nih. Tapi agar bisa lebih menyatu dengan pembahasannya, kita coba kesampingkan dulu preferensi moral kita masing-masing.

Penggabungan usaha atau pernikahan usaha, dalam akuntansi dapat menggunakan cara akuisisi atau cara kedua yaitu merger. Apa bedanya? Kan sama-sama bergabung menjadi satu? Iya tentu sama-sama memiliki tujuan untuk menggabungkan entitas, tapi akuisis dan merger itu berbeda. Kalau dalam pemahaman akuntansi merger itu menggabungkan entitas menjadi satu, tapi eksistensi keduanya hilang atau sudah dihapus karena sudah bergabung menjadi satu entitas yang baru. Seperti misalnya PT Kotak merger dengan PT Balok, nah mereka merger dan membentuk entitas baru menjadi PT Kubus. Jadi eksistensi PT Balok dan PT Kotak tadi tidak ada lagi, mereka merger atau bergabung menjadi satu unit usaha baru disebut dengan PT Kubus. Lantas akuisis gimana? Kalau akuisisi berbeda nih, dari segi entitas usaha yang bergabung, masing-masing entitas tersebut masih ada tapi salah satu pihak atau pihak yang melakukan akuisisi akan memegang kendali penuh terhadap entitas yang diakuisisi nya. Kedengarannya cukup ngeri ya? Jadi kalau akuisisi ada pihak pengendali dan ada pihak terkendali, seperti misalnya PT Kotak melakukan akuisisi kepada PT Balok, karena PT Kotak memiliki 60% saham atas PT Kotak., jadi PT Kotak ini sebagai pihak yang mengakuisisi memiliki kendali atas PT Kotak, apapaun itu. Nah dari sini kita bisa melihat bahwa pada metode penggabungan akuisisi, memang masih memberikan eksistensi kepada kedua belah pihak, hanya saja kesannya pihak yang melakukan akuisisi terkesan memiliki power yang lebih besar dari pohak yang diakuisisi, mau bagaimana lagi ya dia akan dikendalikan oleh si pengakuisisi. Sudah jelas kan bedanya?

Jika memilih untuk menikah atau penggabungan hidup dengan orang lain, kamu akan melakukannya dengan metode akuisis atau merger? Enaknya sih merger, tapi metode akuisisi juga nampaknya menarik. Tapi, jika kamu ingin melakukan akuisis, tentu kamu harus punya power yang cukup besar, hampir sama dengan akuisisi di dalam kasus akuntansi, power yang harus kamu punya ya kekuasaan, harta, networking, sumberdaya lainnya, dan memiliki aura yang meyakinkan. Jika tidak punya power, bagaimana caranya kamu bisa melakukan akuisis. Salah satu prasyarat yang juga mungkin membantu untuk melakukan akuisisi dalam pernikahan adalah memiliki gender pria. Bukannya menggaung-gaungkan patriarki, hanya saja secara gender melakukan akuisisi dalam pernikahan akan lebih tinggi probabilitasnya terjadi bila entitas yang ingin melakukan akuisisi itu adalah seorang pria. Yah alasan yang paling pertama muncul tentu yang masuk dalam kategori alasan patriarkis sih, tapi realitas memang berkata demikian, dimana seorang pria memiliki beban sosial sebagai seorang tulang punggung keluarga, sebagai pencari nafkah, pemimpin rumah tangga, dan sebagainya. Tentu gender perempuan juga bisa menjadi tulang punggung keluarga, sebagai pencari nafkah, dan pemimpin rumah tangga, tapi apakah jika ini terjadi kamu dan dia sebagai entitas yang sudah bergabung menjadi satu dalam ikatan pernikahan (suami-istri) bisa nyaman dengan pandangan sosial yang sudah membebankan hal tersebut kepada gender pria? Tapi kan entah suami entah istri kalau keduanya sama-sama ingin mencari nafkah ya tidak masalah dong. Tentunya tidak masalah, dan itu diluar konteks metode penggabungan akuisisi, oke?

Akuisisi biasanya dimulai dengan seorang pria yang mengatakan, "Saya sudah siap dek, untuk semua kebutuhan nanti jika kita sudah berkeluarga, saya siap tanggung, jika sudah punya anak Insya Allah saya akan bekerja keras untuk menyekolahkannya sampai ke tingkat yang tinggi. Kamu percaya saja dek sama abang, kamu tak perlu capek-capek lagi kerja, beban untuk mencari nafkah biar saya saja dek yang tanggung" kepada pihak yang ingin diakuisisi. Kesannya lembut sekali ya dan sangat adem, bagaimana caranya seorang perempuan menolak keinginan yang mulia seperti itu? Tapi tetap saja, jika berawal seperti ini maka metode yang dipilih si pria itu kemungkinan besar adalah metode akuisisi. Iyakah? Kasus sederhananya, sebagai istri karena tidak diperkenankan untuk bekerja atau mencari nafkah sendiri, tentunya jika suami tidak memberikan uang saku buat jajan kamu tidak akan jajan dong. Jadi secara halus dia mengikat kamu dengan ikatan pernikahan berbasis akuisisi. Enak sih tapi ngeri.

Daritadi sepertinya hanya membahas akuisisi saja. Oke coba kita melakukan trials pernikahan dengan menggunakan metode merger. Merger kan basisnya kedua insan ini bersatu karena memang punya satu tujuan. Kita kesampingkan dulu salah satu konsekuensi dari merger tadi yang dimana kedua entitas yang bergabung akan kehilangan eksistensinya dan berubah menjadi satu entitas yang baru. Kita bisa analogikan konsekuensi ini begini, jadi ada seorang pria bernama Gunner menikah dengan metode merger dengan si Alice, nah karena merger mereka menjadi satu entitas yang baru dong? Jadi mari kita sebut mereka dengan The Gunner, keluarga The Gunner, yang didalamnya ada si Gunner dan si Alice. Nah karena kita berbicara terkait manusia, kita tidak bisa menghilangkan entitas bahkan meskipun entitas itu sudah mati (karena dalam berbagai keyakinan setelah mati di dunia, manusia memiliki roh yang masih hidup di alam lain wallahualam). Jadi untuk metode merger versi pernikahan, kita kecualikan salah satu konsekuensi merger tadi, jadi eksistensi keduanya masih ada ya karena dia manusia.

Metode merger terjadi karena kedua insan tersebut mencari insan lain yang menurutnya memiliki visi yang sama dengan dia, setelah dapat targetnya maka terjadilah merger. Misalnya si Gunner punya cita-cita untuk bisa memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara gratis, tapi dia hanya punya bekal sertifikat profesi sebagai dokter, dia tidak punya bakat untuk membangun properti gedung yang layak dan modal yang kuat untuk menggapai cita-cita yang mulianya. Nah ketemulah Gunner sama si Alice yang notabenenya seorang pengusaha ternama, dia sudah punya banyak modal untuk diputar ke berbagai lini bisnis, tapi sekarang dia mencari orang yang bisa membantunya membangun tempat untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada banyak orang tapi dia tidak memiliki cukup ilmu untuk mewujudkan hal itu. Nah bertemulah mereka, suka-sama-suka, setelah bercerita eh ternyata punya visi yang sama, mulai suka keluar dan jalan bareng, eh tau-tau nya cocok, aquarius ketemu dengan cancer, setelah hubungan berjalan beberapa bulan, berbagai masalah muncul dong, tapi mereka sepertinya menjadi kuat jika bersama, kenapa bisa? Karena mereka punya visi yang sama untuk dicapai. Jadi ceritanya mereka menikahhlah, mewujudkan keinginannya, dan hidup bahagia. Iyasih, tapi di dunia nyata hal seperti itu tidak terjadi.

Tentu benar di dunia nyata tidak terjadi sebagaimana yang diungkapkan teori, karena kita ini kan manusia bukan perusahaan. Sans ae lah. bang Fahri Hamzah bilang manusia itu selalu melakukan hal-hal yang beyond the expectations, jadi susah untuk ditebak.

Tapi begini, dengan menggunakan kacamata akuntansi kita bakal paham bagaimana dan apa yang terjadi dengan kedua insan setelah bergabung menjadi satu. Entah itu dengan menggunakan metode merger ataupun akuisisi. Nah hal-hal seperti ini nih yang jarang orang notice karena keburu ketutup dengan dalil, "semua orang punya jodoh, jodoh tak bakal kemana", dan "rejeki itu semua orang punya, tidak usah iri dan dengki cukup berusaha yang terbaik saja". Jadi faktor-faktor dan variabel-variabel tambahan yang muncul setelah pernikahan mereka tidak bayangkan sebelumnya akan muncul dan karena belum siap untuk dihadapi jadinya susah. Ini hanya tambahan sudut pandang saja ya bukan ajakan untuk apa.

Setelah melakukan penggabungan hidup, tentu banyak faktor-faktor dan konsekuensi-konsekuensi yang bakal dihadapi sebagai akibat terjadinya penggabungan hidup (menikah). Sebagai entitas yang sudah tergabung, tentunya kedua belah pihak sudah sharing ekonomi dong, intinya sharing sumber daya. Sumberdaya yang dimiliki pihak satu dan pihak kedua bisa saling ditukarkan, saling berbagi, saling dipergunakan, jika terjadi kerusakan ya repair and maintenance nya sama-sama ditanggung, kalau ada tambahan biaya ya dicari jalan keluar bersama-sama, pajak pun dishare dong sebagai suami-istri, pendpatan digunakan bersama, biaya-biaya juga ditanggung bersama, aset yang dimiliki menjadi aset bersama, networking pun manjadi networking bersama, jadi kalau selingkuh pasti ketahuan yak, hehe. Eh tapi ini berlaku untuk metode merger ya, kalau metode akuisisi beda lagi.

Metode akuisisi yang notabenenya power dan kendali dipegang oleh si pihak akusisi (biasanya si pria), maka melakukan sharing ekonomi, sharing biaya dan sharing pendapatan mungkin tidak sepenuhnya berlaku. Jika suami (pihak akuisisi) marah saat mobilnya tidak sengaja dirusak oleh istri (pihak yang diakuisisi), jika suami ogah untuk share networkingnya kepada si istri, jika istri tidak tahu sepenuhnya ternyata suami punya penghasilan lain yang dipergunakan diluar dari pengetahuan si istri, jika si istri tidak tahu kalau pendapatan suami dipergunakan untuk membiayai hidup perempuan yang lain, kita bisa consider bahwa mereka menikah menggunakan metode akuisisi dengan si suami adalah pihak yang melakukan akuisisi.

Tentunya untuk menikah, manusia punya banyak pilihan untuk memilih terms yang ingin diterapkan selama berlangsungnya penggabungan hidup antara dua insan (pernikahan). Karena menikah bukan hanya moment satukali saja, tapi sekali yang berlangsung seumur hidup. Bagaimana dengan kamu, akan melakukan merger atau akuisisi dalam pernikahan?

Post a Comment

0 Comments